"Mom, can't you got divorce?" ucap Laura tanpa kata pembukaan. Kalimatnya bahkan tak membuat terkejut perempuan yang melahirkannya itu, seolah Ia tahu bahwa sebenarnya bertahan bukan sebuah solusi.
Tak mendapat jawaban membuat Laura mengembuskan napas sebelum berkata, "dulu alasan mommy enggak mau cerai karena anak-anak Mommy belum menikah, dan Mom takut Dad enggak mau dateng waktu aku atau mbak menikah."
Menjeda kalimatnya, seolah ingin melepas sesak di dada, Laura akhirnya melanjutkan kalimatnya.
"Mbak udah nikah, dan aku, mama tahu aku udah divorce dan aku enggak mau nikah lagi. Jadi sekarang apa alasan mama enggak mau lepasin Dad? Tanya Laura dengan suara setengah putus asa dan memohon. Memohon agar perempuan di depannya yang kini membiru tangan dan wajahnya itu untuk mulai memikirkan kebahagiaannya.
Lelah tak mendapat jawaban, Laura akhirnya memilih melangkah meninggalkan ibunya. Ia menutup pintu perlahan, membuka ponselnya dan melihat nama sang ayah di sana. Menimbang ragu dan akhirnya memutuskan untuk tak menghubungi ayahnya.
Dan di sana, di taman itu langkah Laura terhenti, ia melihat Seno yang asik bermain dengan angsa yang ada di kolam. Tak mau pria yang menjadi sahabatnya itu menyadari kegundahannya, Laura berusaha menekan perasaannya lagi.
Di sana lah Seno melihat, sosok Laura dengan tatapan kosong, hal yang sebenarnya sangat tak disukai Seno, tapi dia tak ingin memaksa Laura bicara.
Seno hanya mengulurkan tangan, menggenggam tangan Laura seolah ingin meminjamkan kekuatannya. Laura meraih uluran tangan itu, menggenggamnya erat. Seolah jiwanya hancur jika ia tak menggenggam erat tangan Seno.
------
"Ngopi yuk Sen," kata Laura sambil menggeser kursinya mendekati meja Seno. Mereka memang berada di ruangan yang sama dengan meja yang saling berhadapan.
Melepas headphonenya, Seno tampak melirik ke arah jam yang tertera di monitor komputernya.
"Oke, let's go," jawab Seno yang langsung menyimpan rancangannya untuk rumah baru Timur, sebelum meninggalkan pekerjaannya.
"Berapa lama lagi kelar?" tanya Laura. Seno yang paham dengan arah bicara Laura langsung menjawab "habis kita ngopi gue lanjut dikit, besok juga udah bisa lo kasih ke Timur."
"Gue boleh tanya enggak?" tanya Seno kemudian sambil membuka pintu untuk Laura.
"Shoot," jawab Laura.
"Jadi Timur itu....?" tanya Seno dengan nada menggantung.
"Mantan gue," jawab Laura singkat dan direspons Seno dengan anggukan.
Seno paham betul bahwa Timur adalah sosok yang selama ini diceritakan Laura, cinta pertamanya, kesalahan pertama yang disesali sampai saat ini.
"Entar lo ikut gue meeting apa enggak?" tanya Seno sambil menyeruput minumannya.
"Iya. Tar bareng aja, gue nebeng mobil lo," jawab Laura singkat.
------
Timur yang duduk di dalam kafe, melihat ke arah luar secara tak sengaja ketika melihat sebuah mobil yang menyita perhatiannya. Bukan jenis BMW Z4 yang membuatnya terpaku, tapi sosok perempuan di dalam mobil itu, duduk manis di kursi penumpang.
"Laura?" kata Timur dengan kalimat menggantung.
Selama ini Timur memang tidak tahu jika Laura tak bekerja sendiri, tapi ada tim di balik karya-karyanya, termasuk Seno.
Pandangan Timur tak berhenti dari bagian kaca depan yang terlihat lebih jelas karena sorotan matahari.
Ada yang aneh dalam hatinya saat melihat cara Seno memperlakukan Laura.
Keduanya tampak turun dari mobil dengan sikap profesional, dan Timur melihat ponselnya yang menyala. Pesan dari Laura.
"Aku udah sampai," tulis Laura dalam pesan yang dibaca Timur.
Timur hanya tersenyum dengan kebiasaan Laura yang tak berubah. Selalu memberitahu posisinya ketika membuat janji dengan orang.
"Aku udah di dalam," balas Timur yang terus melihat ke arah Laura, sadar kalau Laura pasti mencarinya.
Laura tak tersenyum, hanya menundukkan sedikit tubuhnya sebagai salam.
Seno yang menyadari hal itu langsung berbisik "Dia?" dan Laura hanya berdeham tipis. "Hemm".
Seno mengangguk paham tanpa harus Laura memberikan intruksi lain.
Keduanya masuk ke dalam kafe kecil di pusat kota. Kafe yang sepertinya hanya orang-orang tertentu yang tahu keberadaannya. Karena di jam makan siang seperti ini, rasanya hampir semua kafe akan penuh, tapi tidak di tempat ini. Tetap mengutamakan, kenyamanan, kehangatan. Dulu kafe ini juga merupakan proyek awal Laura saat masih baru datang ke Indonesia, sehingga dia cukup akrab dengan pemilik maupun pelayannya.
Timur melihat bagaimana Seno membukakan pintu untuk Laura, keduanya masuk dan seperti mengubah suasana kafe seperti tempat peragaan busana. Laura tak berubah, auranya yang kuat dan mengintimidasi siapa pun, seolah sulit digapai.
Tanpa sadar Timur tersenyum melihat sosok mantan perempuannya itu.
"Halo, Seno," kata Seno memecah keheningan dengan mengulurkan tangan lebih dulu pada Timur.
"Halo, gue Timur," kata Timur menyambut uluran tangan dan tersenyum.
"So.., can we start now?" tanya Seno tanpa canggung.
"Yup, go ahead," jawab Timur kemudian.
Selama Seno menjelaskan dan menunjukkan rancangan 3D nya, Timur beberapa kali bertanya dan menambahkan masukan.
Di sela-sela penjelasan Seno, Timur menjawab telepon dari calon istrinya.Singkat, tak banyak tanya, namun menyiratkan rasa percaya dan saling menghormati. Sebuah cinta dan ketulusan yang tumbuh dari kedewasaan.
Laura mengamati hal itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Seno yang menyadari setiap gerakan Laura hanya mengembuskan napas kasar, tangan kanannya turun dan menepuk paha Laura yang duduk di sampingnya.
Keduanya tak bicara, hanya saling menatap dan mengedipkan mata.
Semua hal kecil itu tak luput dari perhatian Timur. Dia sendiri tak tahu kenapa begitu berat hatinya melihat Laura. Apa yang terjadi?
Seno yang memang ambidextrous, melanjutkan penjelasan, mengedit bagian ruangan sesuai keinginan Timur dengan menggunakan tangan kiri, dengan tangan kanan tetap menggenggam tangan Laura di bawah meja.
"Saya rasa cukup buat hari ini, nanti hasil finalnya saya kirim ke email seperti biasa. Semua revisi sudah saya sematkan," ucap Seno sambil membereskan barang-barangnya.
"Email? Jadi yang selama ini kirim email pakai nama Laura itu kamu ya?" tanya Timur.
Sambil tersenyum menggaruk kepala, Seno mengangguk.
"Lo kebiasaan ih, suka lupa logout dan asal kirim," kata Laura menegur sambil bercanda.