Laura berusaha melupakan apa yang terjadi antara dia dan Seno beberapa minggu lalu. Berusaha untuk tetap menganggapnya sahabat, tapi setiap kali bertemu Seno, pikirannya tak bisa menghapus momen hitungan detik saat itu.
“Arghhhhh, diam Lau, otak lo mesum banget sumpah. Tenangin diri lo,” ujar Laura berteriak frustasi sambil mengacak-acak rambut sebahunya. Ya Laura baru saja memotong pendek rambutnya dan mewarnainya dengan warna silver.
“Udah gila lo ya?” seloroh Seno sambil mengacak lembut rambut Laura. Tanpa tahu apa yang sedang bergulung di otak perempuan itu.
Bahwa senyum manis Seno di pagi hari ini membuat Laura yang sejak tadi berjuang menenangkan hatinya justru semakin berantakan.
Tangannya menyentuh tangan Seno berusaha menghentikan gerakan itu, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Seno justru menggenggam tangannya erat.
Jantung Laura berdebar hebat mendapat perlakuan demikian dari pria yang selama ini dianggap sebagai sahabatnya itu.
(Lo kayak jalang Lau, bisa diem enggak, pikiran lo enggak usah kemana-mana)
Laura menarik tangannya cepat dan menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Semua gerakan kecil itu tak luput dari pandangan Seno, ia hanya tersenyum yang entah apa maknanya kali ini.
“Lau,” panggil Seno kemudian membuat Laura berhenti dan memutar tubuhnya ke arah Seno. Mengangkat salah satu sisi alisnya, seakan memberikan isyarat tanya.
“Jangan nangis lagi,” kata Seno sambil tersenyum cerah.
Mendengar hal itu keluar dari bibir Seno membuat Laura mencebik. Kaki mungilnya menghentak ke lantai. Bibirnya mengerucut dan terlihat sedang bergumam. Seno yang melihat itu semua tertawa dan membuatnya semakin semangat menggoda Laura.
“Lau, inget nanti siang janji kita ya,” teriak Seno yang membuat Laura kembali menghentikan langkahnya dan menghadap ke Seno.
Laura mengangkat jari telunjuknya, menempatkan di depan bibir, memberi isyarat agar Seno berhenti berteriak atau sebentar lagi bos mereka bisa keluar dan menegur mereka. Ya meskipun Seno dan Laura anak kesayangan di firma arsitek ini, tetap saja mereka menghormati peraturan yang ada.
Seno tampak tertawa melihat sikap menggemaskan Laura. Sambil berjalan mengekori Laura, Seno terus tersenyum.
----
“Jadi ini revisi yang baru sesuai rapat terakhir kemarin. Ini fix mau eksekusi atau masih mau revisi lagi?” tanya Seno pada Timur.
“Gue oke sih,” kata Timur memberikan persetujuannya.
“Oke, nanti saya kirim detailnya dan form approvalnya,” kata Seno dengan nada serius.
Sementara Laura yang baru datang tampak langsung duduk di samping Seno.
“Ada masalah enggak?” tanya Laura pada Timur.
“Enggak, udah aku setujui kok desainnya,” jawab Timur.
“Great. Kita bisa maju ke tahap selanjutnya,” kata Laura kemudian.
“Artinya setelah ini aku enggak bisa ketemu kamu lagi ya” tanya Timur tiba-tiba.
Laura yang terkejut, mengangkat wajahnya untuk menatap Timur. Dengan ekspresi heran ia sudah membuka mulut untuk bicara tapi suaranya tertelan suara Seno yang mendahuluinya.
“Sayangnya enggak,” jawab Seno tegas.
“Oooh,” jawab Timur kemudian, tak membantah pun tak berusaha bertanya lagi.
Laura yang merasakan ketegangan di sana langsung berusaha memecah suasana.
“Bisa kok, kan aku masih kepala di proyek ini,” kata Laura dan membuat Seno mengerucutkan bibirnya.
“Maksud aku, kita bisa ketemu di luar urusan ini enggak?” tanya Timur terus terang.
“Sorry, I can’t. Kamu udah punya calon istri dan aku enggak mau dianggap ganggu hubungan kalian. Hidup aku udah cukup kacau tanpa harus ada drama tambahan,” ucap Laura tegas meskipun wajahnya tampak tersenyum lembut.
“Kalau udah enggak ada calon istri, berarti aku boleh ketemu?” tanya Timur yang membuat Seno maupun Laura saling pandang.
“Maksud lo apa? Enggak usah aneh-aneh,” kata Laura.
“Aku batal nikah Lau,” ucap Timur, ringan, bahkan seolah tak ada kesedihan karena pernikahannya gagal.
“Terus rumah ini buat siapa?” tanya Laura kemudian.
“Hadiah buat kamu,” kata Timur santai.
“Terus kamu pikir, aku mau terima rumah yang awalnya dirancang buat kamu dan calon istri kamu?” tanya Laura kali ini dengan nada bergetar menahan marah.
“Kamu pikir aku tuh apa sih? Iya aku emang pernah salah dulu ke kamu, tapi apa aku harus dikasih barang bekas? Oh karena aku janda, iya? Jadi aku pantes dapat bekas?” ucap Laura yang kini matanya mulai berkaca-kaca.
Seno yang melihat hal itu seolah tak mampu lebih lama lagi diam. Ia akhirnya menggenggam tangan Laura.
“Mungkin lo belum tahu, gue berencana ngelamar Laura,” ucap Seno yang kemudian membuat Laura terkejut dan dengan cepat memutar lehernya ke arah Seno.
Mata Laura sudah melotot ke arah Seno, mengucapkan berbagai kata umpatan lewat matanya. Dan Seno hanya tersenyum gemas, melihat hal itu sebagai hal yang lucu.
“Iya sayang, aku emang rahasiain ini dari kamu. Enggak usah kaget gitu lah,” ujar Seno sambl mencubit pipi gembil Laura.
“Kalian mau nikah?” tanya Timur yang sejak tadi hanya menjadi penonton.
Seno kemudian mengulurkan tangan untuk menarik Laura dalam pelukannya.
“Iya nih, gimana dong,” jawab Seno dengan nada setengah mengejek.
Laura kali ini membelalakkan mata, memberi peringatan keras yang tak berdampak apa pun karena Seno hanya menganggap sikap Laura semakin menggemaskan. Sampai akhirnya Seno mengaduh karena Laura mencubit pinggangnya dengan keras.
“Sakit baby,” ucap Seno dengan nada manja. Mendengar hal itu membuat Laura memutar bola mata.
Timur yang memperhatikan gerak gerik keduanya hanya terdiam.
“Ya udah nanti aku chat kamu lagi iya,” ucap Timur seolah tak peduli dengan klaim yang dibuat Seno.
“Ehhh,” kata Laura berusaha menanggapi tapi tak dilanjutkan karena sikap Timur yang tiba-tiba memeluknya untuk berpamitan.
“I know you too well,” bisik Timur singkat sambil tersenyum, seolah sudah mengetahui permainan Seno tanpa perlu penjelasan panjang lebar. Laura hanya terdiam, namun pipinya perlahan bersemu merah. Ini untuk pertama kalinya setelah belasan tahun mereka terpisah, Timur berbicara sedekat ini.
“Gue duluan,” pamit Timur pada Seno sambil melambaikan tangannya.
Ada rasa tak terima, tapi Laura terlambat merespons, hingga kekesalannya itu dialihkan pada Seno.
“Awwwww!! Sakit tahu” teriak Seno yang kini mulai bergidik ngeri menyadari tatapan Laura.
“Iya maaf maaf,” ucap Seno sambil menangkup kedua telapak tangannya, mengangkat di depan wajah. Tak mendapat respons, Seno memicingkan mata dan mengintip diantara jari-jarinya.
“Kamu beneran marah ya?” tanyanya kemudian dengan nada khawatir bercampur takut.
“Enggak. Cuma kamu harusnya jangan gitu,” kata Laura tanpa emosi sedikit pun saat berbicara.
“Kamu masih suka sama dia ya?” tanya Seno kemudian.
Matanya menatap bergantian ke arah bola mata perempuan yang dicintainya, mencoba mencari jawaban dan kejujuran di sana.
“Entah,” jawab Laura singkat dan mengalihkan topik pembicaraan.
Seno tak menyerah dan tetap menatap Laura dalam diam.
“Udah yuk balik kantor,” kata Laura kemudian sambil menarik tangan Seno.
“Gue enggak bercanda Lau,” ucap Seno yang membuat Laura terdiam.
“Gue serius sama yang gue bilang tadi,” lanjutnya.
“Bercanda juga enggak apa-apa,” jawab Laura berusaha menetralkan kecanggungan yang terjadi.
Seno menatap Laura singkat, “Nanti malam makan apa ya,” kata Seno mengalihkan pembicaraan.
--------
“Pak, berkas buat proyek Timur sudah saya letakkan di meja bapak ya untuk approval akhir,” ucap Laura ketika bertemu dengan atasannya di kantor.
“Oke. Oh iya Laura. Kamu besok berangkat ke Jepang ya, ada proyek di sana. Klien maunya desain kamu, tapi pengin ketemu langsung,” kata Ananta Dharmaputra, atasan Laura sekaligus sebenarnya kakak sepupu jauh Laura.
“Oke Pak. Berapa hari?” tanya Laura sambil berjalan mencoba mengikuti kecepatan langkah pria yang saat pertemuan keluarga itu selalu dipanggilnya ‘abang’ itu.
“Seminggu aja. Kamu sama Seno aja biar cepet deal-nya,” kata Ananta.
“Iiiih, mau ke Jepang sama Laura?” ucap Seno tiba-tiba memotong pembicaraan dan langsung merangkul keduanya, berdiri ditengah-tengah Laura dan Ananta.
Ananta yang memang bersahabat dengan Seno hanya tersenyum, seolah memang sedang merencanakan ini semua.