Shelter
“Are you okay mom?” tanya Laura saat menemani ibunya di rumah sakit. Terbaring tak berdaya dengan luka di beberapa bagian tubuhnya.
Wajah Laura yang tenang jauh berbeda dengan isi otak dan hatinya yang kini berkecamuk.
Ini bukan pertama kalinya Laura menghadapi sendiri kondisi ibunya seperti ini. Sejak remaja ia sudah terbiasa menemani ibunya keluar masuk rumah sakit hanya karena menjadi samsak sang ayah, Baskara Soerjono. Seorang pengacara dan pengusaha ternama yang memiliki citra penyayang keluarga serta suka melakukan kegiatan kemanusiaan. Ya, keluarga Laura memang tak hanya terpandang dalam hal materi, tapi juga dikenal sebagai keluarga yang sering melakukan kegiatan sosial. Mereka bahkan memiliki yayasan khusus yang menampung orang-orang tua yang dibuang keluarganya.
Setiap kali melihat bagaimana orang mengagumi dan memuja ayahnya, Laura hanya bisa tersenyum manis, meskipun jauh di dalam hatinya ia ingin marah dan berteriak.
Sang ibu yang terbaring seperti tahu apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran putrinya itu. Ia mengulurkan tangan yang bebas dari selang infus.
“Lau, maafin mommy,” ucap perempuan yang diluar rumah dikenal sebagai desainer interior ternama itu.
“Buat apa?” tanya Laura dingin.
“Maaf karena mommy enggak bisa kasih kamu rumah yang hangat, rumah yang nyaman buat kamu melepas lelah,” kata perempuan yang tetap terlihat cantik bahkan di usia yang sudah menginjak 58 tahun itu.
Laura tersenyum sebelum akhirnya mengeluarkan kata-kata yang ia sendiri tak menyangka akan keluar dari mulutnya.
“As long as you are happy, I’m fine,” kata Laura berusaha menutupi lagi perasaan dan rasa kecewanya.
“Mom masih ingin bertahan dengan dad, so what can I do, right?” imbuhnya dengan pasrah.
“Dad dimana sekarang?” tanya Laura kemudian.
Sang ibu mengalihkan pandangan dan memilih melihat jauh ke arah jendela besar di kamar rumah sakit itu.
“Sekarang dad bahkan enggak say sorry to you Mom?” ucap Laura dengan nada tak percaya atas kelakuan ayahnya.
“Dulu dad masih datang ke rumah sakit, nangis, minta maaf. Sekarang dia lebih pilih lari ke pelukan wanita itu,” kata Laura lagi sambil memandang tubuh ibunya yang tampak bergetar. Laura yakin saat ini ibunya sedang menangis. Entah karena kesetiaannya dikhianati, entah karena luka di hatinya lebih sakit dibanding luka fisiknya, entah karena mulai meragukan keputusannya mempertahankan pernikahan selama ini.
Yang pasti Laura tahu, semakin bertambah dewasa ia akhirnya paham bahwa alasan ibunya dulu mempertahankan pernikahan bukan karena demi anak, melainkan demi egonya sebagai perempuan. Sang ibu ingin melindungi egonya. Ego seorang perempuan yang tak mau mendapat gelar ‘janda’ dan status sebagai ‘janda’ adalah hal tabu di keluarga mereka. Setidaknya di keluarga ibu Laura. Juga ketakutan seorang perempuan, bahwa semandiri apa pun mereka, terkadang ada rasa takut akan hidup sendiri dan membesarkan anak sendiri.
Amyrea hanya diam mendengar pertanyaan putrinya itu. Ia memilih mengeratkan matanya seolah ingin melindungi dirinya dari perkataan-perkataan, prasangka yang dibangunnya sendiri.
Sebagai wanita karier, Amyrea dikenal sosok yang cerdas, penuh pertimbangan, teliti. Tapi jauh dari itu, kebanggaannya atas status sang suami, pernikahan sempurna yang diperlihatkan di publik karena memiliki suami tampan, anak-anak yang berwajah rupawan, harus dibayar mahal dengan siksaan fisik dan mental. Semua demi mempertahankan nama Soerjono di belakang namanya.
Disaat keduanya sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing, ponsel Laura menyala, menandakan notifikasi baru yang masuk.
“Lau, lo inget kan nanti malam kita ke Jepang?” tulis Seno dalam pesannya.
Menghela napas, Laura tak membalas pesan itu. Membiarkan ruang percakapan tetap terbuka tanpa berniat membalas apa pun pesan dari Seno.
Di sisi lain, Seno yang melihat pesannya hanya bertanda ‘read’ kini mulai tak tenang. Tapi ia tahu, Laura paling benci menerima panggilan telepon.