Kairos
Part 1
“Lau, beneran enggak mau aku anter ke bandara?” tanya Timur memastikan sekali lagi saat mereka sudah ada di basement apartemen Laura.
“Iyah. Ada Seno ini loh, dan lagi sebelum ada kamu juga apa-apa bisa sendiri,” jawab Laura sambil melirik ke arah Seno.
“Tapi sekarang udah ada aku Lau. Gunain aku, manfaatin aku,” kata Timur.
“Iya kan kamu udah bantu aku dengan janji jagain nyokap. Buat aku itu udah sangat cukup. Aku beneran nitip mereka ya? Kalau ada apa-apa kamu harus langsung kabarin aku,” ucap Laura berpesan penuh penekanan.
“Iya, aku janji,” kata Timur akhirnya dengan suara lemah, menyerah. Karena ia sadar betapa keras kepala Laura sehingga akan sia-sia jika saat ini dia memaksa Laura.
“Dan makasih sebelumnnya,” kata Laura.
Timur menatap dalam ke arah manik cantik Laura. Tak bisa memungkiri, ia pasti akan begitu merindukan Laura.
Melangkahkan kaki untuk berjalan mendekat ke arah Laura, Timur menarik tangan Laura dan membawanya ke dalam pelukannya.
“Kamu jaga diri baik-baik di sana ya. Kalau aku kangen, aku boleh nyusul enggak?” tanya Timur.
“Terus nyokap gimana?” jawab Laura sambil menarik tubuh Timur, menjauhkannya dari tubuhnya.
Sementara Seno yang sudah meletakkan semua koper mereka ke dalam bagasi, kini memanggil Laura dan mengingatkan untuk segera berangkat.
“Aku titip dia ya Sen,” kata Timur.
Seno yang mendapat pesan demikian memperlihatkan dengan jelas kebingungannya.
“Tanpa kamu minta juga udah gue jagain kali,” kata Seno.
“Yuk Ra, entar telat kita,” ujar Seno menarik tangan Laura dan membawanya ke kursi penumpang.
Sambil menjulurkan lidah pada Timur, Seno berjalan di depan mobil untuk menuju ke pintu pengemudi.
--
Di dalam mobil Seno suasana terlalu tenang, canggung, yang membuat Seno akhirnya berdeham untuk mencairkan suasana yang mungkin jika ia tak melakukan itu, sebentar lagi akan membekukan mereka berdua.
“Ra, are you okay?” tanya Seno.
“Ya, I’m good,” jawab Laura sambil tetap melihat ke arah luar jendela penumpang.
“You know Ra, kamu juga bisa ngandelin aku loh buat apa pun,” ucap Seno tiba-tiba.
Dan Laura baru sadar, Seno tak lagi memakai kata lo-gue, melainkan aku-kamu. Hal kecil yang selalu ia dan Timur lakukan, dan masih menjadi kebiasaan sampai sekarang, kini juga dilakukan Seno.
Menyadari hal itu, Laura sempat mengangkat wajah dan melirik ke arah Seno. Gerakan yang begitu halus dan kecil Laura ternyata disadari oleh Seno.
“Apa? Apa?” tanya Seno mendesak.
“Enggak,” jawab Laura.
Ponsel Laura menyala dan menunjukkan notifikasi dari Timur. Seno yang menyadari hal itu segera membuang muka, dan beralih kembali menatap jalan di depannya.
“Your mom,” tulis Timur dalam pesan yang disertai foto Timur bersama Amyrea.
“Thank you ya udah jagain nyokap,” balas Laura.
“Kalau kamu kangen sama aku, bilang ya,” balas Timur. Laura hanya membaca pesan itu, menatap lama layar ponselnya hingga layar yang menyala itu akhirnya mati.
“Hemmm,” kata Timur yang mengetahui hal itu dan akhirnya meletakkan ponselnya.
Baru saja Timur meletakkan ponselnya, dan akan kembali melanjutkan pekerjaannya, ia dikejutkan dengan suara seorang perempuan yang memasuki ruang VVIP ibunda Laura.
Jujur, Timur dalam posisi ini bingung harus bersikap seperti apa. Yang ia tahu, Leo sudah berdiri tegak dan gagah di samping ibunya.
“Mau apa lo?” tantang Leo yang merentangkan tangannya untuk melindungi ibunya.
Timur akhirnya berdiri, memilih bersiaga jika ada hal-hal tak terduga terjadi.
“Apa sih, orang gue cuma mau jenguk istri pertama,” ujar wanita berdandan sederhana namun itu yang membuatnya terlihat lebih mirip ular.
“Kakak baik-baik aja?” tanya Nonna pada Amyrea, wanita muda yang akhirnya dari pembicaraan Leo membuatnya sadar bahwa wanita itu adalah selingkuhan dari om Soerjono.
“Oh God, ini kenapa?” tanya perempuan itu saat menunjuk kaki Amyrea yang masih dipasang gips.
Nadanya sama sekali bukan nada berduka atau sedih, melainkan ‘menghina, meledek’.
Timur yang awalnya ingin mengabaikan itu, lama-lama merasa tak tahan.Andai saja bukan perempuan,mungkin saat ini detik ini juga Timur akan menarik rambutnya dan mengajaknya berduel di luar.
Saat ini Timur hanya bisa mengeratkan jemarinya hingga warna kulitnya memutih, memperlihatkan urat-urat yang menegang.
“Enyah aja lo,” teriak Leo pada Nonna. Membayangkan perempuan yang menjadi selingkuhan ayahnya berusia sama seperti kakak perempuannya benar-benar membuat Leo merasa muak.
“Bang, seret cewek ular ini keluar,” perintah Leo, mutlak, tak ada sedikit pun celah untuk menolak permintaannya.
Timur yang memang ikut terpantik emosinya, menarik pergelangan tangan perempuan itu.
“Kalau lo seumuran Laura, artinya lo lebih muda dari gue, so gue prefer enggak pakai sopan santun. Dan lagian ngapain pakai sopan santun sama cewek kayak lo,” kata Timur setelah membawa perempuan itu keluar dari ruangan.
“Pesen gue cuma satu, kalau niat lo datang diantara mereka cuma demi uang, lo mau berapa? Gue kasih, tapi enyah lo dari kehidupan tante Amyrea dan om,” kata Timur.
“Awwww, jadi lo enggak kalah tajir gitu maksudnya dari Om?” tanya Nonna dengan nada centil dan mendekatkan wajahnya ke arah Timur.
“Menarik,” kata Nonna yang semakin mendekatkan bibirnya ke arah bibir Timur, tapi Timur buru-buru memalingkan wajahnya.
“Tapi sorry, gue lebih suka Om-om, lebih rawrrrr,” kata Nonna.
“Ya kecuali lo bisa nandingin om kalau di ranjang sih, gue...akan pertimbangkan," ucap Laura sambil melirik ke arah bawah Timur.
Timur yang seumur hidupnya belum pernah menemukan wanita seperti Laura benar-benar terpantiik emosinya.
“Gue udah coba sabar dan ngomong baik-baik ya dari tadi.Tapi kayaknya lo cukup gila buat diajak ngobrol. Sebelum gue meledak, dan lo bakal nyesel karena enggak dengerin gue, mendingan lo enyah dari muka gue, dari depan Leo maupun tante Amyrea sekarang.Jangan sampai gue bisa lihat muka lo lagi. Camkan itu,” tegas Timur.
Setelah melihat Nonna berjalan menjauh, Timur yang benar-benar marah, di mana ia padahal termasuk orang yang sangat jarang marah, kini memilih duduk di bangku depan ruangan tante Amyrea.
“Breng**k,” kata Timur menjerit lirih sambil menjambak rambutnya sendiri.
Ia kemudiian berjalan keluar menjauh dan mencari ruang merokok.
Rasanya sudah lama sekali ia tak pernah semarah ini lagi dalam hidupnya. Mungkin terakhir kali ia marah adalah saat Laura mengkhianatinya dengan sahabatnya sendiri.
Ia ingat saat itu bagaimana pengkhianatan Laura terasa menyakitkan, tapi kini jika ia mengingat semuanya kembali, rasanya ia mulai mengerti dan bahkan tak mau lagi menyalahkan Laura. Terlebih setelah tahu kondisi mental Laura yang terganggu.
Menghisap rokoknya dan mematikannya, Timur dikejutkan dengan sosok Leo yang kini masuk ke ruangan khusus perokok itu.
Terkejut, tentu saja. Selama ini Timur masih selalu menganggap Leo sebagai anak kecil. Sehingga melihat Leo berubah seperti ini membuatnya masih sulit percaya.
Menghisap vapenya dalam—dalam, Timur mengamati dari sisi kanan Leo. Mengagumi bagaimana keluarga Laura benar-benar dikaruniai wajah yang rupawan. Bahkan adik laki-laki Laura memiliki wajah yang sangat indah. Perpaduan antara kecantikan dan kelembutan ibunya di bagian mata, rahang tegas sang ayah, serta bulu mata yang begitu lentik.
“Sejak kapan kamu jadi setampan ini sih dek,” goda Timur.
Ia mencoba menutupi rasa sakit hatinya. Berbicara dengan Leo bisa mengusir kemarahannya begitu saja. Tapi menatap wajah anak yang dulu begitu kecil dan harus menyaksikan setiap pertengkaran orangtua di usia yang masih belum genap lima tahun, membuat Timur tak pernah sanggup bahkan untuk sekedar mengingatnya.
“Kan emang aku cakep bang dari kecil,” kata Leo santai.
“Bang, jangan bilang soal ini ke mbak ya,” ucap Leo sambil mengeluarkan asap dari vapenya.
Timur tak memotong perkataan Leo, mencoba mendengar alasan dari adik kecilnya itu.
“Mbak udah cukup menderita selama ini. Dia juga alasan kenapa aku jarang pullang ke rumah. Setiap pulang ke rumah, aku akan ingat, bukan hanya setiap pertengkaran orangtuaku bang. Tapi juga gimana waktu itu mbak hampir ngelakuin hal konyol di kamarnya. Aku nemuin dia tergeletak di kamar. Seolah enggak cukup aku lihat nyokap dipukuli, sekarang aku lihat mbak aku, orang yang aku anggap tembok yang kokoh, ternyata serapuh itu,” kata Leo.
“Selama ini aku berlindung di belakang dia. Tapi dia berlindung ke siapa?” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
“Dan aku yakin, kamu juga tahu kan bang kalau dia sempat cerai. Alasan mbak waktu itu nikah bukan karena cinta, tapi karena ia mengartikan cinta dengan cara yang salah. Ia belajar cinta dari sumber yang salah, mbak itu ngelihat kalau cinta harusnya, sewajarnya saling menyakiti. Dan diam saat disakiti itu bentuk cinta,” kata Leo.
“Buat mbak waktu itu, sosok Andrea adalah pelindungnya. Ia merasa menemukan lo di diri Andrea. Tapi dia itu bodoh, Andrea tetap Andrea, dia bukan lo,” ucap Leo lagi sambil menatap Timur.
“Aku enggak mau nyalahin orangtuaku sampai kakakku seperti ini, tapi mau dipikir ratusan ribu kali pun, tetap otakku enggak bisa masuk bang. Andai keluargaku baik-baik aja, mungkin kakakku enggak akan duain kamu, andai orangtuaku ngajarin bagaimana cara mencintai yang benar, mbak pasti enggak akan salah pilih pasangan yang berakhir buatnya menyandang status janda hanya setahun setelah menikah,” ucap Leo sambil memandang jauh ke depan.
Setiap kalimat yang keluar dari bibir Leo penuh dengan penyesalan, rasa sakit dan kecewa.