
Ketika akhirnya aku berani mengakui perasaanku sendiri, semuanya justru menjadi lebih sulit. Rasanya seperti membuka pintu yang selama ini kutahan rapat-rapat—dan setelah terbuka, tidak ada cara untuk menutupnya lagi. Setiap detak jantung terasa lebih jelas, setiap momen kecil bersamanya terasa lebih nyata, dan setiap perhatian sekecil apa pun membuatku semakin goyah.
Yang membuat semuanya tambah rumit… adalah Riyu sendiri.
Dia ramah, selalu sopan, selalu murah senyum. Tapi ada sesuatu pada dirinya—sesuatu yang tidak bisa benar-benar kujelaskan. Aku pernah mengamatinya cukup lama untuk menyadari satu hal: dia menjaga jarak dari semua wanita di kantor.
Bukan dengan cara dingin atau kasar. Justru sebaliknya—dia tetap baik, tetap profesional, tetap menunjukkan senyum hangat itu. Hanya saja… selalu ada batas tak terlihat yang tidak pernah ia biarkan siapa pun lewati.
Dan mungkin itulah alasan terbesarku menahan diri.
Bagaimana bisa aku menunjukkan perasaan yang bahkan tidak seharusnya ada, sementara dia sendiri seolah menutup pintu pada segala kemungkinan? Bagaimana jika sebatas inilah dunia kami—aku dengan perasaan yang makin sulit dikendalikan, dan dia dengan jarak aman yang selalu dijaganya?
Karena itu… aku memilih diam.
Diam, sambil berharap perasaan ini perlahan memudar. Tapi nyatanya, justru semakin hari semakin sulit.
---
Pagi ini udara terasa hangat. Sudah lebih dari setengah tahun aku memendam perasaan ini sendirian. Setengah tahun menyimpan degup yang tak pernah surut, senyum-senyum kecil yang tak pernah tertangkap, dan harapan yang diam-diam tumbuh tanpa izin. Dan hari ini… aku sudah tidak peduli lagi. Aku ingin mengatakannya pada Riyu. Kalaupun ditolak, aku siap menerimanya. Aku tahu dia bukan tipe yang suka bergosip atau mempermalukan orang lain. Setidaknya, aku bisa memberi penutup pada perasaan yang sudah terlalu lama kusimpan.
Pagi itu aku berdandan lebih cantik dari biasanya. Lipstik sedikit lebih merah, rambut kutata lebih rapi, dan parfum yang jarang kupakai pun ku semprotkan. Namun bahkan sebelum aku menginjakkan kaki di kantor, hatiku sudah tidak karuan—berdebar, gelisah, dan… penuh harapan kecil yang berusaha kupendam.
Begitu sampai di kantor, aku langsung menuju mejaku. Aku tak terlalu memperhatikan sekitar—hanya sekilas senyum rekan-rekan yang berpapasan dan bisik-bisik kecil yang terdengar samar, seolah ada sesuatu yang sedang mereka simpan bersama.
Beberapa detik kemudian, Bu Rini masuk tepat di belakangku.
Aku meletakkan tas, menyalakan komputer, lalu duduk seperti hari-hari sebelumnya. Hingga saat itulah mataku menangkap sesuatu di atas meja.
Sebuah undangan pernikahan warna pastel tergeletak manis di meja.
Dengan tenang aku membukanya—setidaknya aku mencoba terlihat tenang—hingga mataku membaca nama pengantinnya. Lalu kalimat berikutnya. Dan berikutnya lagi.
Dalam sekejap… tubuhku menggigil.
“Pak Riyu, ini benaran?” tanya Bu Rini dari kursi sebelahku. Nadanya penuh antusias, penuh kejutan bahagia yang tidak sanggup kurasakan.
Riyu tersenyum. Senyum yang selama ini membuat jantungku kacau.
“Ah, iya. Saya harap kalian semua bisa hadir nanti,” katanya dengan nada hangat seperti biasa.
Serentak semua orang mengucapkan selamat, tepuk tangan kecil terdengar di sekitar ruangan.
Aku… tidak bisa merasakan apa pun lagi.
Rasanya seperti lantai di bawahku hilang. Seperti aku terjun bebas dari lantai tujuh langsung ke dasar bumi. Namun wajahku harus tetap datar, harus tetap stabil, harus tetap profesional.
Karena menangis di kantor bukan pilihan. Karena tidak ada yang boleh tahu bahwa detik itu juga, sesuatu di dalam diriku runtuh.