
Di rumah, rasanya pun tidak berbeda.
Di kantor, di jalan pulang, bahkan saat aku berbaring di tempat tidur—perasaan itu tidak kunjung membaik. Justru semakin buruk. Seperti gelombang yang terus datang tanpa memberi waktu bagiku untuk bernapas.
Namun aku tetap menekannya.
Setiap kali hatiku terasa sesak, aku mengulang kalimat yang sama dalam pikiranku, berkali-kali, sampai terdengar seperti suara orang lain:
“Aku tidak sedih.”
“Aku ikut bahagia.”
“Aku baik-baik aja.”
Kalimat-kalimat itu menjadi tamengku. Tipis, rapuh, tapi tetap kupakai setiap hari.
Di kantor, aku masih tersenyum pada semua orang. Masih membantu rekan kerja, masih menyapa seperti biasa. Aku tetap bekerja dengan baik, membuat laporan, memeriksa data, menghadiri rapat. Seolah hidupku tidak berubah, seolah hari itu tidak pernah terjadi.
Bahkan saat makan siang, aku tetap mengunyah dengan tenang, walau rasanya makanan itu hambar dan pahit sekaligus. Dan ketika pulang, aku masih menyapa satpam, masih membuka pintu rumah dengan rutinitas yang sama, menyalakan lampu, meletakkan tas, dan menarik napas panjang seperti tidak ada apa-apa.
Tapi di balik semua itu… aku tahu.
Ada bagian di dalam diriku yang sedang robek perlahan, pelan namun pasti.
Aku mencoba menahannya dengan senyum yang sama setiap hari. Karena jika aku berhenti tersenyum… mungkin aku akan benar-benar runtuh.
---
Beberapa hari setelah undangan itu, suasana kantor kembali seperti biasa—setidaknya di permukaan. Mesin fotokopi tetap berdengung, cangkir-cangkir kopi masih berpindah tangan, dan tawa kecil tetap terdengar di sela-sela pekerjaan.
“Rea, besok ikut bareng ke kondangan, ya,” kata Bu Rini sambil menyusun map.
Aku mendongak, menarik sudut bibirku secara otomatis. “Iya, Bu.”
“Sayang banget kalau nggak datang. Ketua tim sendiri yang nikah,” sahut Pak Anton dari balik meja. “Makanannya pasti niat.”
Orang-orang tertawa.
Aku ikut tersenyum, meski dadaku terasa sesak.
Riska mendekat, suaranya lebih pelan. “Kamu yakin nggak apa-apa, Rea?”
Aku menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Aku baik-baik aja.”
Kalimat itu keluar lagi. Lancar. Seolah sudah kuhafal di luar kepala.
“Lumayan, Rea,” timpal Bu Siska tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. “Kamu bisa lihat konsep pernikahannya buat referensi. Siapa tahu bentar lagi giliranmu.”
Aku tertawa kecil. “Iya, Bu.”