Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #4

Dua Kehidupan


Begitu sampai di rumah, aku menutup pintu perlahan—seolah suara sekecil apapun bisa membuat hatiku pecah. Aku melangkah pelan menuju kamar, setiap langkah seperti menapaki sesuatu yang rapuh di dalam diriku. Setelah berganti pakaian, mantra yang sejak beberapa minggu terakhir terus kupegang, kembali bergulir di dalam kepala.

Aku baik-baik saja.

Aku baik-baik saja.

Aku… benar benar baik-baik saja

Tapi entah kenapa, kalimat itu hari ini terdengar asing. Seperti suara orang jauh yang tidak kukenal.

Aku berhenti di depan cermin. Menatap pantulan diriku sendiri—mata yang kelelahan, pipi yang memerah, senyum yang bahkan tidak lagi mampu menyentuh mataku. Pelan-pelan, aku mengangkat sudut bibirku, mencoba membentuk senyum yang tadi kutunjukkan pada Riyu dan istrinya. Senyum yang kupaksakan mati-matian.

“Bagus, Rea… tetap kayak gitu,” bisikku pada diri sendiri.

Senyum itu tampak utuh. Tapi mataku… tidak.

Detik berikutnya, tanpa aba-aba, setetes bulir air mata jatuh dari sudut mataku. Tiba-tiba. Tidak diundang. Seolah menembus semua dinding yang kubangun sejak pagi.

Cepat-cepat kuusap.

Tapi digantikan oleh bulir lain. Lalu yang lain lagi. Dan semakin banyak… semakin deras.

Sampai akhirnya aku menyerah.

Aku terisak, begitu pilu. Air mata jatuh bertubi-tubi hingga pandanganku buram. Lututku lemas, tubuhku limbung, seolah semua kekuatan di dalam diriku menghilang begitu saja.

Aku bertumpu pada tepi meja rias, mencoba bernapas… tapi rasanya tidak ada udara yang masuk.

Sakit itu memenuhi dada dan tenggorokanku seperti gelombang dingin yang menelan seluruh tubuhku.

Mantra yang tadi terus kuulang—

“Aku baik-baik saja.”

—kini terdengar begitu hampa, begitu kosong, begitu tidak masuk akal.

Aku bahkan tidak tahu lagi apa makna kalimat itu.

Yang kutahu hanya satu:

Malam itu… untuk pertama kalinya sejak enam bulan terakhir, aku berhenti berpura-pura kuat.

Dan pada akhirnya, air mataku berbicara lebih jujur daripada kata-kataku.

---

Sejak malam itu, rutinitasku berubah.

Setiap pagi sebelum berangkat kerja, hal pertama yang kulakukan bukan lagi membuat kopi atau merapikan rambut—melainkan mengompres mataku. Kantong es kecil yang dulu kupakai untuk sakit kepala, kini menjadi penyelamat agar bengkak mataku tidak terlalu terlihat.

Aku tidak ingin ada yang bertanya. Aku tidak ingin ada yang menatapku lama-lama. Aku tidak ingin ada satu pun orang yang tahu kalau setiap malam aku menangis sampai kelelahan, sampai tertidur tanpa sadar.

Lihat selengkapnya