Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #5

Pintu Yang Tertutup


Setelah pulang dari bulan madu, Riyu semakin produktif.

Ide-ide seolah mengalir deras dari kepalanya. Dalam rapat mingguan, namanya semakin sering disebut—bukan karena jabatan, melainkan karena gagasan-gagasannya yang segar, praktis, dan tepat sasaran. Pak Damar berkali-kali mengangguk puas, bahkan beberapa kali tersenyum lebar sambil menepuk meja.

“Wah, Pak Riyu, amunisi pengantin barunya nggak main-main ini,” celetuk Pak Anton suatu pagi, membuat seluruh ruangan tertawa.

Riyu hanya tersenyum, agak menunduk singkat, wajahnya terlihat benar-benar bahagia.

Dan entah kenapa… kebahagiaan itu seperti jarum kecil yang menusuk pelan dadaku.

Sejak itu, aku semakin sering terlibat langsung dengannya. Ada saja hal-hal yang membuatku harus berkoordinasi dengan Riyu—hal yang dulu terasa biasa, kini berubah menjadi ujian kecil yang datang berkali-kali dalam sehari.

“Rea, kamu ada waktu sebentar?” tanyanya suatu siang, berdiri di sisi mejaku sambil membawa tablet.

Aku mengangkat kepala, tersenyum seperlunya. “Ada, Pak.”

“Untuk proyeksi produksi yang kemarin, aku mau pastikan asumsi biayanya sudah sinkron sama rencana marketing,” katanya tenang.

Aku mengangguk, membuka file di layar. Tanganku sedikit dingin, tapi suaraku berusaha tetap stabil saat menjelaskan.

“Kita pakai asumsi kenaikan distribusi lima persen, Pak. Kalau lebih dari itu, margin kita terlalu tipis.”

Riyu mengangguk pelan. “Oke. Masuk akal.”

Ia berdiri cukup lama di sampingku. Terlalu dekat untuk ukuran hatiku yang belum benar-benar pulih.

Ada juga momen ketika dia harus mampir ke mejaku hanya untuk memastikan satu detail kecil. Ada rapat-rapat di mana aku harus duduk bersebelahan dengannya, tepat di hadapan Pak Damar. Dan setiap kali itu terjadi, aku harus mengingatkan diriku sendiri untuk bernapas normal.

“Rea, pendapatmu gimana?” tanya Pak Damar dalam salah satu rapat.

Aku menjawab dengan profesional. Angka, grafik, strategi—semuanya keluar lancar. Tidak ada yang tahu bahwa di balik meja itu, lututku bergetar pelan.

Bahkan saat makan siang pun, seolah takdir senang mengujiku.

“Saya boleh gabung?” tanya Riyu santai suatu siang, menunjuk kursi kosong di meja kami.

“Tentu, Pak,” jawab Bu Rini antusias.

Para ibu-ibu langsung riuh. Pertanyaan-pertanyaan khas pun bermunculan.

Lihat selengkapnya