
Tiga bulan sudah berlalu sejak pernikahan Riyu. Hubungan kami tetap profesional, dan aku pun… masih berusaha keras melupakan semuanya.
Hari ini akhir pekan. Aku duduk malas-malasan di lantai kamar, bersandar pada tepi tempat tidur, punggungku menempel pada kayu yang dingin. Di luar, gerimis turun sejak pagi—tidak deras, tidak pula benar-benar berhenti. Hujan yang ragu-ragu, seperti perasaanku sendiri. Suaranya menenangkan, tapi sekaligus menorehkan kesepian yang sulit dijelaskan.
Aku memeluk lutut, menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Entah kenapa, dadaku terasa kosong. Bukan sesak, bukan pula sakit—hanya kosong. Seperti ruangan besar yang lampunya padam dan ditinggalkan semua orang.
Aku menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan.
Tepat pukul tiga sore, ponselku berdering. Getarannya terasa asing di telapak tanganku yang dingin.
Nama Bu Rini muncul di layar.
Aku mengernyit kecil. Jarang sekali beliau menelepon di akhir pekan. Namun aku tetap mengangkatnya tanpa curiga.
“Halo, Bu?”
“Rea…”
Suaranya bergetar. Tipis. Tidak seperti Bu Rini yang biasanya tegas dan penuh kendali.
Dadaku langsung mengencang. “Ada apa, Bu?” tanyaku, pelan.
Di seberang sana, ia terdiam beberapa detik. Napasnya terdengar putus-putus, seolah ia sedang menahan sesuatu yang berat.
Lalu satu kalimat itu meluncur—pelan, tapi menghantam seperti benda berat yang jatuh dari ketinggian.
“Istri Pak Riyu… meninggal kecelakaan.”
Dunia berhenti.
Suara hujan menghilang. Detak jam di dinding lenyap. Bahkan napasku sendiri seperti tertelan udara.
Aku refleks berdiri—terlalu cepat. Sampai kepalaku berkunang-kunang, tubuhku oleng. Jantungku berdegup kacau, seolah ingin keluar dari dadaku.
“Apa… Bu?” suaraku bergetar. Hampir tidak keluar.
Namun Bu Rini hanya mengulang, kali ini suaranya benar-benar pecah. “Istrinya Pak Riyu meninggal, Rea. Barusan… barusan kita dapat kabarnya.”
Aku tidak ingat bagaimana panggilan itu berakhir. Yang kuingat hanyalah ponsel di tanganku terasa berat, dan lantai kamar seakan menjauh dari telapak kakiku.
Beberapa detik kemudian, layar ponselku dipenuhi notifikasi. Grup divisi kami. Satu pesan. Dua pesan. Puluhan pesan.
Belasungkawa. Doa. Kalimat-kalimat pendek yang sarat duka.
Dadaku terasa diremas keras. Ada rasa syok yang membekukan, tapi di baliknya… ada sensasi lain yang membuat perutku mual. Rasa yang tidak berani kusebutkan. Rasa yang terasa salah hanya dengan memikirkannya.