Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #7

Retak Diam Diam


Hujan sudah berhenti ketika satu per satu orang mulai meninggalkan pemakaman. Langit sore menyisakan lembayung pucat yang samar, berusaha menembus awan tipis yang belum sepenuhnya pergi. Tanah masih basah, udara masih menyimpan dingin yang menusuk pelan ke kulit.

Beberapa keluarga masih bertahan—ada yang duduk menunduk, ada yang menangis tanpa suara, ada pula yang sekadar berdiri mematung sambil menggenggam tangan satu sama lain. Tidak ada yang benar-benar ingin pulang, seolah langkah pergi berarti mengakui bahwa semua ini nyata.

Dan Riyu…

Ia masih berdiri di tempat yang sama.

Tubuhnya kaku, pandangannya tertuju pada gundukan tanah yang kini menutup nama istrinya. Seolah jika ia berpaling, maka sesuatu yang terakhir itu akan benar-benar hilang. Tidak ada siapa pun di sisinya. Tidak ada bahu untuk bersandar. Hanya dirinya sendiri dan kehilangan yang terlalu besar untuk dipikul sendirian.

Aku melihatnya dari kejauhan. Tidak mendekat. Tidak pernah terlintas di benakku untuk melakukannya.

Aku tahu batas itu. Aku tahu di mana seharusnya aku berdiri.

Aku hanya menatap, menelan kembali sesuatu yang terasa seperti batu besar di tenggorokanku. Napasku terasa pendek, tidak teratur. Ketika akhirnya aku memutuskan berbalik, langkah itu terasa seperti memutuskan diri dari sesuatu yang tidak pernah kumiliki—namun entah bagaimana sudah lebih dulu melukaiku.


---


Perjalanan pulang terasa seperti mimpi buruk yang berjalan lambat.

Motor yang kukendarai melaju pelan di jalanan basah. Lampu-lampu kendaraan memantul di aspal, menciptakan garis-garis cahaya yang kabur. Angin sore mengiris wajahku, membawa sisa dingin hujan.

Namun semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kekacauan di dalam dadaku.

Perasaanku berputar-putar, menghantam dinding batin satu per satu.

Aku merasa… kasihan pada Riyu. hancur untuknya. pilu melihatnya berdiri sendirian.

Namun di balik semua itu, ada suara kecil yang muncul tanpa izin. Suara yang membuat perutku mual, membuatku ingin muntah, dadaku sesak karena jijik pada diriku sendiri.

Dia… kini sendirian.

Aku membenci diriku sendiri karena sempat merasakan itu. Membenci pikiran yang begitu tidak pantas. Membenci hatiku yang rusak dengan cara yang bahkan tidak bisa kubela.

Begitu sampai di rumah, aku mematikan motor dengan tangan gemetar. Helm kulepas asal, tas kugantung sembarangan. Pintu rumah kubuka pelan, dan begitu aku melangkah masuk, kakiku melemas.

Aku bersandar pada dinding, menutup mata kuat-kuat.

Tenggorokanku panas. Dadaku perih. Kepalaku penuh oleh bayangan wajah Riyu di pemakaman—wajah kosong yang tidak menangis, tapi lebih menyedihkan daripada siapa pun.

“Aku… apa sebenarnya yang aku rasakan…?” bisikku lirih.

Lihat selengkapnya