
Pagi itu, tepat sepekan setelah pemakaman, udara kantor terasa berbeda sejak aku melangkah masuk. Bukan karena pendingin ruangan yang terlalu dingin, bukan pula karena derit kursi atau bunyi ketikan keyboard yang saling bersahutan. Ada sesuatu yang tak kasatmata, menggantung rendah di udara—seperti kabut tipis yang menekan dada.
Aku tahu alasannya bahkan sebelum melihat ke arah pintu utama.
Riyu kembali hari ini.
Kabar itu beredar sejak kemarin sore, disampaikan Bu Rini lewat grup internal dengan kalimat singkat dan hati-hati: Besok Pak Riyu mulai masuk lagi. Mohon jaga sikap dan saling mendukung.Tidak ada emoji, tidak ada basa-basi. Kalimat itu saja sudah cukup membuat dadaku kembali sesak semalaman.
Aku duduk di kursiku lebih awal dari biasanya. Laptop sudah menyala, catatan kerja kubuka, tapi mataku terus melirik ke arah pintu. Setiap bunyi langkah membuat bahuku menegang. Jantungku berdetak terlalu cepat untuk pagi yang seharusnya biasa.
Lalu pintu itu terbuka.
Tidak ada suara keras. Tidak ada sapaan ceria seperti dulu. Hanya langkah pelan, hampir ragu, seolah orang yang melangkah masuk itu tidak yakin masih punya tempat di ruangan ini.
Riyu berdiri di ambang pintu.
Wajahnya pucat, jauh lebih pucat dari yang kuingat. Matanya cekung, hitam di bawahnya seperti bayangan yang tidak sempat disembunyikan. Rambutnya masih rapi, tapi tidak lagi dengan kesan segar yang dulu selalu melekat. Tubuhnya tampak lebih kurus, jas kerjanya jatuh longgar di bahu, seolah ia menyusut bersama hari-hari duka yang menelannya.
Dan senyumnya—
Senyum itu tidak ada.
Bukan hilang sementara. Bukan sekadar disembunyikan. Senyum itu seperti sesuatu yang benar-benar tertinggal di tempat lain, terkubur bersama waktu yang belum siap ia lepaskan.
Ruangan langsung senyap.
Beberapa orang yang tadi mengobrol pelan terdiam. Ada yang berdiri setengah refleks, ada yang menunduk kikuk, ada pula yang pura-pura sibuk dengan layar monitor. Tidak ada yang tahu bagaimana caranya menyambut seseorang yang baru saja kehilangan dunia.
Bu Rini menjadi orang pertama yang melangkah maju. Tangannya terangkat ragu, lalu menyentuh lengan Riyu dengan sangat hati-hati, seolah takut sentuhan sekecil apa pun bisa membuatnya runtuh.
“Kami… turut berduka cita, Pak Riyu,” ucapnya pelan, suaranya jauh lebih lembut dari biasanya.
Riyu mengangguk kecil. “Makasih, Bu.” Suaranya rendah, serak, nyaris seperti bisikan.
Pak Anton ikut berdiri, menelan ludah sebelum bicara. “Kalau butuh apa-apa… jangan sungkan, Pak.”
“Iya,” sambung Bu Winda dari meja seberang, “kami semua di sini.”
Riyu kembali mengangguk. Tidak banyak kata keluar darinya. Seolah setiap suku kata adalah beban tambahan yang terlalu berat untuk dipikul.
Ia berjalan ke mejanya dan duduk perlahan. Kursi itu berderit pelan—suara kecil yang entah kenapa terdengar terlalu keras di telingaku. Tangannya menyentuh meja, diam cukup lama, seolah memastikan bahwa semua ini nyata, bahwa ia benar-benar sudah kembali ke tempat yang sama, meski hidupnya tidak lagi utuh.