
Sudah lebih dari seratus hari sejak kematian istri Riyu. Seratus dua belas hari, tepatnya.
Aku terkejut ketika menyadari bahwa aku tahu angka pastinya. Entah sejak kapan aku mulai menghitung, atau mungkin hatiku yang melakukannya sendiri tanpa perlu perintah. Angka itu melekat, seperti bekas luka yang tidak berdarah tapi terasa setiap kali disentuh. Seolah menjadi penanda samar dari luka yang bukan milikku—namun entah bagaimana ikut kurasakan.
Seratus dua belas hari.
Banyak hal yang berubah selama 112 hari ini.
Riyu… sudah mulai membaik. Setidaknya, itulah yang terlihat dari luar.
Wajahnya tidak sepucat dulu. Lingkar hitam di bawah matanya mulai pudar. Tubuhnya perlahan kembali terisi, tidak setirus beberapa bulan lalu. Ia sudah bisa berbicara lebih panjang di rapat, menanggapi obrolan kantor, bahkan sesekali menimpali lelucon kecil Pak Anton dengan anggukan atau senyum tipis.
“Syukurlah, Pak Riyu. Senang banget lihat Bapak bisa bercanda lagi.” kata Pak Anton suatu siang sambil tertawa kecil.
"Makasih, kalian semua sangat membantu saya.” jawab Riyu pelan, sudut bibirnya terangkat sedikit.
Dan hanya itu. Senyumnya memang belum kembali sepenuhnya. Atau mungkin sudah, tapi masih sebatas garis tipis—seperti seseorang yang hanya mengingat bentuk senyum, bukan rasanya.
Namun tetap saja… itu sudah jauh lebih baik dari beberapa bulan lalu.
Ia juga sudah mulai makan di kantin lagi. Tidak lagi menyendiri di pantry dengan kopi dingin yang tak tersentuh. Kadang ia duduk bersama tim, mendengarkan obrolan para ibu-ibu kantor tentang anak, sekolah, atau harga sembako.
"Pak Riyu, tambah lagi dong makannya," kata Bu Siska sambil menggeser kotak bekal berisi nasi putih ke arah Riyu.
"Kelihatan masih kurusan, lho. Harus banyak tenaga buat mulai kerja lagi."
Riyu tersenyum tipis, senyum yang meski masih menyiratkan sisa-sisa kelelahan, sudah tampak lebih tulus dari sebelumnya.
"Iya Bu, pelan-pelan. Perutnya masih kaget kalau langsung banyak."
"Cobain lauk saya Pak, ayam woku. Baru matang tadi subuh, bumbunya mantap buat bangkitkan selera," kata Bu Winda menyodorkan kotak bekalnya yang berwarna hijau terang.
Aroma kemangi dan cabai segar langsung menguar, memancing selera siapa pun di sana.
Riyu mengambil sepotong kecil ayam dengan sopan.
"Wah, harum banget, Bu Winda. Makasih."
"Eh, jangan cuma sepotong, Pak! Nanti ayamnya kesepian kalau cuma diambil satu," canda Bu Siska yang disambut tawa kecil oleh rekan-rekan lainnya.
Riyu terkekeh, kali ini suaranya terdengar lebih lepas.
Melihatnya begitu… hatiku terasa hangat dan perih dalam waktu bersamaan.
Setiap malam sebelum tidur, aku melakukan hal yang kini menjadi rutinitas baruku. Berdoa.
Bukan untukku. Bukan untuk perasaanku. Bukan untuk kemungkinan apa pun di antara kami—karena aku sudah lama tidak menggenggam harapan itu.
Tapi untuknya.
Untuk Riyu. Untuk laki-laki yang mungkin tidak pernah tahu betapa keras aku meminta pada Tuhan agar hidupnya kembali terang, meski hanya sedikit.
Aku benar-benar ingin ia menemukan kebahagiaannya lagi…
Doa itu selalu sama. Selalu berhenti di titik yang sama.
…apa pun caranya.
Kalaupun suatu hari ia menemukan seseorang baru—seseorang yang bisa membuatnya tertawa lagi, membuatnya tersenyum dari hati—aku akan ikut bahagia.
Meski rasanya mungkin seperti ada sesuatu yang terlepas dari dadaku. Meski mungkin aku akan menangis diam-diam seperti dulu.
Tidak apa-apa.
Karena kebahagiaannya adalah hal pertama yang ingin kulihat. Bukan karena aku ingin memilikinya. Bukan karena aku ingin menggantikan siapa pun.
Tapi karena tidak ada yang lebih menyedihkan daripada melihat seseorang yang kau sayangi… kehilangan cahayanya.
Dan tidak ada yang lebih indah… daripada melihat cahaya itu kembali pelan-pelan.