Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #10

Genggaman Yang Terlalu Erat


Sore itu langit memerah, warna yang biasanya menenangkan justru terasa sayu di mataku. Minggu seharusnya menjadi hari yang ringan—hari untuk beristirahat, menghirup napas tanpa beban pekerjaan, membiarkan pikiran mengalir tanpa tujuan. Tapi sejak beberapa bulan terakhir, hari libur tak lagi terasa berbeda dari hari biasa.

Aku berjalan tanpa tujuan yang jelas. Langkahku menyusuri trotoar dengan kepala sedikit tertunduk, seolah mencari sesuatu yang bahkan aku sendiri tak tahu bentuknya. Ada kekosongan yang terus menghantam, datang dan pergi tanpa izin, meninggalkan rasa hampa yang sulit kubahasakan.

Angin sore berembus pelan, membawa aroma aspal hangat dan sisa hujan siang tadi. Orang-orang berlalu lalang—pasangan yang berjalan berdampingan, keluarga kecil dengan tawa anak-anak, dan beberapa orang yang sibuk dengan ponsel mereka. Semua tampak memiliki arah. Semua tampak tahu ke mana harus pergi.

Aku tidak.

Di pinggir trotoar, di antara pot tanaman yang mulai mengering, seekor anak kucing mengeong kecil. Tubuhnya kurus, bulunya kotor, dan salah satu telinganya tampak sedikit robek. Tapi matanya—matanya bulat, bening, penuh harap.

Aku berhenti.

Entah kenapa, langkah kakiku terasa berat untuk melanjutkan. Aku berjongkok perlahan, menjaga jarak agar tidak menakutinya.

“Lapar ya?” gumamku lirih.

Aku merogoh tas kecilku dan mengeluarkan biskuit yang sebenarnya kubawa hanya sebagai pengganjal perut. Kugenggam satu, memecahnya menjadi remah-remah kecil, lalu mengulurkannya perlahan.

Anak kucing itu mendekat dengan ragu, mengendus sebentar, lalu mulai makan dengan lahap. Suara kecil dari rahangnya yang mengunyah membuat sesuatu di dadaku terasa hangat.

Hatiku merasa sedikit lebih ringan.

Seolah dunia berhenti sebentar, memberi ruang kecil untuk bernapas.

Namun kehangatan itu tidak bertahan lama.

Tanpa peringatan, anak kucing itu meloncat—ke arah jalan raya.

“Astaga—!”

Refleks tubuhku bekerja lebih cepat dari pikiranku. Aku bangkit dan berlari mengejarnya. Tanganku berhasil meraih tubuh mungil itu tepat sebelum kakinya menyentuh aspal.

Aku menarik napas lega.

Tapi kelegaan itu lenyap seketika saat aku menoleh ke kanan.

Sebuah mobil melaju cepat. Jaraknya hanya beberapa meter.

Aku membeku.

Tubuhku menolak bergerak. Seolah kakiku tertanam di tanah, seolah waktu tiba-tiba melambat dan dunia mengecil di sekelilingku.

Aku mendengar klakson. Aku melihat cahaya lampu depan. Dan aku tahu—aku terlambat.

Tiba-tiba—

BRUK!

Seseorang menarik tubuhku dengan kekuatan yang hampir merobek lenganku. Dunia berputar singkat sebelum aku terjatuh ke sisi trotoar. Lututku menghantam keras, tapi lenganku refleks memeluk anak kucing itu erat-erat.

Anak kucing itu mengeong ketakutan, tubuh kecilnya gemetar di dalam pelukanku.

“Kamu gila ya!!”

Suara itu menghantam seperti petir.

Aku mengangkat wajah perlahan.

Lihat selengkapnya