Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #11

Perhatian Yang Tidak Boleh Dimiliki


Matahari pagi menembus celah gorden kamar, namun sinarnya terasa terlalu terang untuk mataku yang masih berat. Hal pertama yang kulakukan saat terbangun bukanlah meraih ponsel, melainkan menyingsingkan lengan piyama. Di sana, di atas kulit yang pucat, memar itu masih membayang. Warnanya kini berubah menjadi ungu kebiruan yang pekat, seperti noda tinta yang tumpah dan enggan hilang.

Meski semalam sudah berkali-kali kukompres dengan air hangat dan es bergantian, warnanya tetap keras kepala, seolah ingin memastikan aku tidak melupakan kejadian kemarin.

Aku menghela napas panjang, menatap pantulan diriku di cermin yang tampak kuyu. Akhirnya, aku memilih mengenakan blouse lengan panjang berbahan katun ringan. Aku merapikan mansetnya, memastikan kancingnya terpasang sempurna hingga menutupi pergelangan tangan. Aku berharap tidak ada yang melihat, tidak ada yang bertanya, dan tidak ada yang memaksaku menjelaskan sesuatu yang bahkan pada diriku sendiri sulit kuterima.

Pagi itu aku berangkat lebih cepat dari biasanya. Jalanan masih lengang, udara belum sepenuhnya panas. Tapi ketenangan luar tidak pernah benar-benar sampai ke dadaku. Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiranku dipenuhi satu hal yang terus berputar tanpa henti—wajah Riyu kemarin sore, tatapannya yang panik, dan genggaman tangannya yang terlalu kuat.

Di lobi kantor, langkahku menuju lift terasa berat, meski aku berusaha menampilkan raut wajah biasa saja. Rutinitas pagi di gedung bertingkat ini selalu sama: suara sepatu yang beradu dengan lantai marmer, aroma kopi dari kafe, dan gumaman orang-orang yang mengejar absen. Aku berdiri di depan lift, menatap angka-angka digital yang bergerak turun.

Begitu pintu berdenting terbuka, aku masuk dan hendak menekan tombol lantai tujuh. Namun, sebuah suara berat memecah keheningan koridor di belakangku.

“Tunggu!”

Suara itu memecah pagi dengan cukup jelas.

Refleks aku menekan tombol penahan pintu.

Riyu.

Dadaku menegang sepersekian detik. Entah sejak kapan, kedekatan yang terpaksa terjalin ini justru membuatku merasa… tidak nyaman. Bukan tidak suka—hanya… terlalu sadar akan keberadaannya.

“Pagi, Pak,” sapaku singkat, berusaha terdengar netral.

“Pagi,” jawabnya. Suaranya tenang, hampir datar, seperti biasa.

Lift bergerak naik. Ruang sempit itu mendadak terasa lebih sempit dari biasanya. Tidak ada percakapan lain. Hanya suara mesin lift yang berdengung pelan.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya suara Riyu kembali terdengar—lebih rendah, lebih hati-hati.

“Tanganmu memar.”

Aku membeku.

“Kemarin… aku nariknya keras banget.”

Bagaimana dia tahu?

Aku buru-buru merapatkan lengan panjangku, seolah bisa menyembunyikan sesuatu yang sudah terlanjur terlihat. Jantungku berdetak lebih cepat, terlalu cepat untuk situasi sesederhana ini.

“Nggak apa-apa, Pak,” jawabku cepat. “Udah saya obati.”

Aku berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Dan… maaf udah bikin Bapak kaget kemarin.”

Hening.

Hening yang berat, menekan, dan membuat udara di dalam lift terasa lebih tipis.

Aku tidak berani menatapnya. Aku bisa merasakan pandangannya, tapi aku memilih menatap lurus ke depan, menghitung detik sampai pintu lift terbuka.

Ting!

Lantai tujuh.

Begitu pintu terbuka, aku mengangguk singkat ke arah Riyu dan langsung melangkah keluar—terlalu cepat, seperti seseorang yang sedang melarikan diri.

Lihat selengkapnya