
Malam itu restoran terasa jauh lebih bising daripada biasanya. Suara piring sendok yang saling beradu, gelas yang berdenting pelan, tawa yang meledak tanpa benar-benar ditahan—semuanya bercampur menjadi satu dengungan ramai yang seharusnya terdengar meriah. Giliran tim kami merayakan rilis produk yang akhirnya diterima pasar dengan baik. Sebuah pencapaian besar, kata Pak Damar di awal acara. Sesuatu yang pantas dirayakan.
Tapi sejak awal aku tahu, aku tidak benar-benar siap untuk kumpul seperti ini.
Lampu-lampu restoran temaram, meja panjang sudah dipenuhi rekan dari berbagai divisi. Beberapa wajah kukenal akrab, beberapa hanya sekadar tahu nama. Aku berusaha datang sedikit terlambat, berharap bisa duduk di ujung, dekat orang-orang yang nyaman.
Sayangnya, malam ini aku tidak begitu beruntung—atau malah beruntung.
“Rea, sini, sini!” Bu Rini melambaikan tangan dari tengah meja.
Aku berhenti sejenak, melirik cepat ke sekeliling. Kursi hampir penuh semua. Hanya tersisa satu tempat duduk kosong—di samping Bu Rini, tepat berhadapan dengan seseorang yang sejak beberapa bulan terakhir selalu berusaha kujaga jaraknya.
Riyu.
Aku menarik napas pelan sebelum melangkah.
Nggak apa-apa. Cuma makan malam biasa, batinku, mencoba menenangkan diri.
Namun begitu aku duduk, detak jantungku langsung mengkhianati semua afirmasi itu.
“Capek ya kelihatannya,” kata Bu Rini sambil menuangkan air ke gelasku.
“Sedikit, Bu,” jawabku, tersenyum tipis.
Riyu mengangguk kecil ke arahku. “Makasih udah datang.”
Kalimatnya sederhana. Nada suaranya juga biasa. Tapi entah kenapa, aku tetap merasa ada sesuatu yang harus kutahan agar tidak terlihat di wajahku.
Pelayan datang membawa menu, lalu kembali dengan beberapa hidangan yang dipesan bersama. Meja segera penuh oleh piring-piring besar, aroma makanan hangat bercampur jadi satu. Semua orang mulai mengambil, berbincang, tertawa.
Aku menunduk ke piringku, mencoba fokus pada hal yang paling netral.
Dan tanpa sadar, tanganku mulai bergerak memisah-misahkan daun seledri dari nasi goreng di depanku. Gerakan refleks yang sudah kulakukan sejak kecil, bahkan tanpa berpikir.
“Kenapa dikutik-kutik?”
Suara itu membuat telapak tanganku berhenti di udara.
Aku mendongak sedikit. Riyu menatapku, alisnya terangkat samar, bukan menghakimi—lebih seperti benar-benar penasaran.
“Ah… itu…” Aku menggerakkan jariku canggung, menunjuk piringku. “Ini…”
“Pak, Bapak nggak tau ya?” sela Bu Rini sambil tertawa kecil, menyelamatkanku dari kebingungan sendiri. “Rea itu anti seledri.”
Beberapa orang tertawa ringan.