Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #13

Hari Yang Tak Lagi Diam


Hari ini—hari ke-167 sejak istrinya meninggal—adalah pertama kalinya aku melihat Riyu tiba di kantor dengan mengemudikan mobilnya sendiri.

Aku tidak berniat menghitung hari. Tidak pernah.

Namun entah bagaimana, setiap pagi hatiku selalu menambahkan satu angka lagi. Seperti kebiasaan yang tumbuh sendiri, tanpa izin. Hingga akhirnya angka itu menjejak di kepalaku tanpa bisa kuhentikan.

167. 

Mobil itu melaju pelan ke area parkir, tidak tergesa, tidak ragu. Ban-bannya berhenti tepat di petak yang sama, petak yang selama berbulan-bulan dibiarkan kosong, seolah menjadi ruang sunyi yang sengaja tidak disentuh siapa pun.

Aku berdiri beberapa meter dari sana, baru saja turun dari motorku. Helm masih kugenggam di tangan ketika angin pagi menyapu rambutku, dingin dan bersih. Tapi yang kuperhatikan hanya satu hal: Riyu membuka pintu mobilnya dengan langkah yang lebih tegas, lebih stabil dari sebelumnya.

Tidak sepenuhnya pulih. Tapi ada sesuatu yang kembali.

Bahunya tidak lagi runtuh ke depan seperti orang yang menahan beban terlalu berat. Geraknya lebih yakin, meski masih menyisakan kehati-hatian. Ia berdiri sejenak, menutup pintu mobil perlahan—tidak dibanting, tidak pula ragu.

Aku membetulkan posisi motorku, memundurkannya sedikit agar rapi. Gerakan yang kulakukan hanya untuk memberi waktu pada jantungku yang tiba-tiba berdetak terlalu cepat.

Ketika aku berbalik, sesuatu menghentikanku.

Riyu—yang sedang mengunci mobil—menoleh.

Matanya sempat mencari ke arahku. Hanya sesaat. Tapi cukup.

Tidak ada senyum. Tidak ada anggukan. Tidak ada sapaan.

Hanya pengakuan diam bahwa ia melihatku. Bahwa ia sadar aku ada.

Napas tertahan di dadaku. Seperti refleks bodoh yang tidak sempat kupikirkan. Aku buru-buru menunduk, pura-pura sibuk meletakkan helm, menghindari sesuatu yang bahkan tidak sedang menyerang.

Jantungku memukul dadaku seperti ingin melarikan diri.

Dan untuk pertama kalinya setelah waktu yang panjang dan rumit itu… aku merasa dunia mengambil satu langkah kecil ke depan, entah menuju apa.

Yang jelas, pagi itu terasa berbeda.


---


Tanpa benar-benar memikirkannya, langkah kakiku berbelok ke arah kafe kecil di lobi.

Keputusan spontan—atau mungkin mekanisme bertahan hidup—karena aku tahu timing-nya. Jika aku langsung menuju lift sekarang, kemungkinan besar aku akan berada di dalam ruang sempit itu bersama Riyu.

Dan pagi ini… aku tidak sanggup.

Aku berdiri di depan papan menu, berpura-pura membaca dengan saksama. Padahal mataku hanya menelusuri huruf-huruf tanpa benar-benar menyerap apa pun.

Americano. Latte. Cappuccino.

Aku membaca semuanya berkali-kali, sementara detak jantungku memukul tulang rusuk seperti ingin keluar.

Di belakang kepalaku, ada sesuatu.

Bukan suara.

Bukan langkah.

Tapi tatapan.

Aku merasakannya jelas. Menempel di punggungku. Membuat bahuku menegang tanpa bisa kutahan. Tatapan yang tidak menekan, tapi hadir. Seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu, tapi juga tidak benar-benar pergi.

Aku tidak berani menoleh. Bahkan sedikit pun.

Entah kenapa. Entah apa yang sebenarnya kutakuti—apakah menatap matanya, atau menatap hatiku sendiri.

Lihat selengkapnya