
Rasanya sudah lama sekali kami tidak duduk berdua begini, aku dan Novi sahabatku—tanpa suami Novi, tanpa pekerjaan, tanpa alasan apa pun selain ingin bertemu. Tidak ada agenda besar, tidak ada perayaan, hanya dua perempuan yang pernah saling menguatkan di masa-masa paling rapuh, kini duduk berhadapan di sebuah kafe kecil yang tenang.
Kafe itu tidak besar. Dindingnya berwarna krem pucat dengan rak kayu sederhana di sudut ruangan. Wangi kopi dan kayu manis bercampur di udara, hangat dan menenangkan. Musik diputar pelan, cukup untuk menjadi latar tanpa mengganggu percakapan. Di luar jendela, lalu lintas bergerak malas—siang yang berjalan tanpa tergesa.
Aku memilih duduk di dekat jendela, kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar hilang. Novi duduk di depanku, menyandarkan punggungnya santai di kursi, tangannya memeluk gelas minuman hangat.
Seperti biasa, aku mencoba terlihat baik-baik saja. Seperti biasanya juga… aku gagal.
“Kamu kelihatan nggak baik-baik aja, Rea,” kata Novi pelan. “I mean… you look fine, but not that fine.”
Pertanyaannya datang nyaris seperti pernyataan. Tatapan Novi menembus pertahananku dengan mudah. Tidak ada nada menyelidik, tidak ada paksaan. Hanya kejujuran dari seseorang yang sudah terlalu lama mengenalku—yang tahu caraku tersenyum ketika aku ingin sembunyi.
Aku tercekat. Sedikit terlalu lama sebelum menjawab.
“Apa maksudmu?” aku mencoba tersenyum. “Aku baik-baik aja.”
Bahkan telingaku sendiri tahu, suaraku terdengar palsu.
Novi mengangkat alis, lalu menyipitkan mata sedikit. Gerakan kecil yang dulu sering ia lakukan setiap kali ia tahu aku sedang berbohong.
“Uh-huh,” katanya sambil mencondongkan badan sedikit. “Your eyes say otherwise. Trust me, I know you.”
Aku tertawa kecil, hambar. Menunduk, lalu memainkan sedotan di gelasku. Plastik itu berputar di antara jariku, berdecit pelan. Gerakan tak sadar—pelarian kecil saat aku kehabisan kata.
Sejak awal, aku memang tidak pernah bercerita pada Novi tentang Riyu. Tidak tentang kehadirannya yang perlahan mengisi ruang-ruang sunyi di hari-hariku. Tidak tentang kehilangan yang selalu mengelilinginya seperti bayangan. Tidak tentang rasa bersalah yang terus tumbuh setiap kali aku merasa peduli. Tidak tentang garis batas yang kutarik sendiri—dan betapa seringnya garis itu bergetar.
Bahkan ketika beberapa waktu lalu aku meminta Novi mengenalkanku dengan seseorang, alasanku sederhana—bohong, sebenarnya.
“Kamu mau aku kenalkan sama seseorang lagi?” Novi bertanya pelan kali ini. Lalu ia menambahkan, lebih hati-hati, “No pressure, okay? I’m just asking.”
Nada suaranya berubah. Tidak menggoda, tidak bersemangat seperti biasa. Lebih lembut. Seolah ia tahu, satu kata yang salah bisa membuatku menutup diri lagi.
Aku mendongak.
Tatapan kami bertemu.
Di sana tidak ada penghakiman. Tidak ada rasa ingin tahu berlebihan. Hanya tawaran. Sebuah pintu yang dibuka setengah, menunggu apakah aku ingin melangkah atau tidak.
Aku terdiam. Mempertimbangkan.