Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #15

Getar Yang Tak Pernah Netral


Kantor hari ini terasa lengang—sepi seperti ruangan yang lupa bagaimana caranya bernapas.

Pendingin udara berdengung pelan, tapi tidak cukup untuk menutupi sunyi yang menggantung di antara meja-meja. Cahaya siang masuk lewat jendela besar, jatuh lurus di lantai, memantul pada permukaan meja kerja yang nyaris kosong.

Hari ini hanya ada kami berempat.

Aku.

Riyu.

Bu Winda.

Dan Bu Siska yang duduk jauh di ujung ruangan, hampir tak terdengar keberadaannya.

Pak Anton, Bu Rini, dan Riska sedang melakukan kunjungan ke pemasok—memastikan ketersediaan dan kualitas bahan yang kami perlukan. Biasanya, keberadaan mereka membuat kantor lebih hidup. Ada suara tawa kecil, diskusi mendadak, langkah kaki yang lalu-lalang.

Hari ini tidak.

Sebelum pergi, Bu Rini sempat berdiri di dekat mejaku.

“Rea, pantengin HP-nya ya,” katanya sambil merapikan tas. “Nanti saya mau tanya-tanya.”

Aku mengangguk kecil, lalu melingkarkan jari telunjuk dan ibu jari, memberi isyarat ok tanpa suara.

Begitu pintu tertutup, keheningan itu seolah mengembang—menelan setiap sudut ruangan. Dan dalam sunyi seperti itu, setiap bunyi kecil terdengar berkali-kali lebih jelas.

Termasuk getaran ponselku.

Getar.

Diam.

Getar lagi.

Sejak pagi, Novi terus mengirimkan pesan. Foto. Biodata. Potongan cerita singkat tentang orang-orang yang ingin ia perkenalkan padaku. Notifikasi masuk satu per satu tanpa jeda, seperti tetesan air di ruang yang terlalu sunyi—tidak keras, tapi terus-menerus.

Aku menatap layar sebentar, lalu menurunkannya.

Belum membalas apa pun.

Belum ada satu pun yang terasa benar.

Aku mencoba diam.

Belum lima menit, getar lagi.

Aku menghela napas pelan. Tidak bisa men-silent ponsel ini—aku harus siap menerima pesan dari Bu Rini. Aku menggigit bibir, merasa bersalah pada siapa pun yang mungkin terganggu oleh bunyi itu.

Dan tanpa benar-benar kuinginkan, mataku bergerak ke arah yang selalu kucoba hindari.

Riyu menoleh.

Hanya sekilas. Mungkin setengah detik.

Tapi cukup untuk membuat tubuhku menegang.

Ekspresinya datar seperti biasa. Wajah yang sama yang kulihat setiap hari. Namun dari sorot matanya, aku bisa menangkap sesuatu—bukan marah, bukan kesal, tapi seperti… terganggu. Bukan padaku, mungkin. Pada bunyi yang terus memecah keheningan.

Wajahku memanas.

Aku buru-buru membalikkan ponsel, meletakkannya layar menghadap meja, lalu menahan napas, berusaha tidak membuat suara apa pun lagi.

Namun perasaan tidak enak itu sudah telanjur menumpuk di dada. Seperti batu kecil yang awalnya ringan, tapi terus digeser-geser oleh angin hingga perlahan menjadi bukit.

Aku mencoba kembali bekerja. Mengetik laporan. Membaca email. Mengalihkan fokus.

Tapi setiap kali pikiranku mulai tenang—

Getar.

Lihat selengkapnya