
Sore itu, dunia seolah kehilangan warnanya. Semua yang kulihat hanya gradasi abu-abu yang menjemukan. Namun, tekanan yang sesungguhnya baru dimulai ketika aku melangkah masuk ke dalam kotak besi itu.
Lift terasa jauh lebih sempit dari biasanya.
Udara di dalamnya seperti mengeras, menekan dadaku, membuat napasku terasa pendek dan berat.
Kami berdiri berdampingan, tidak saling menatap. Lampu putih di langit-langit memantul di lantai metalik, menciptakan pantulan buram dari dua orang yang sedang sama-sama diam, tapi tidak benar-benar tenang.
Ponselku bergetar di genggaman.
Andre.
Nama itu muncul begitu saja di layar, terlalu terang di tengah ruang yang sudah terasa sesak. Aku hanya menatapnya sekilas sebelum buru-buru mematikan layar.
Terlalu cepat.
Terlalu gugup.
Namun semuanya sudah terlambat.
“Kamu beneran lagi dekat dengan seseorang, ya?”
Kalimat itu meluncur begitu saja—tenang, netral, seolah tidak membawa apa pun di baliknya. Seolah itu hanya pertanyaan biasa, seperti menanyakan jadwal rapat.
Namun tubuhku bereaksi sebaliknya.
Otot-ototku mengeras.
Dadaku menegang.
Seperti tersandung di ruang yang bahkan tidak punya lantai.
Aku membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Tenggorokanku kering—seolah setiap kata tertahan oleh sesuatu yang terlalu berat untuk dilalui.
Jadi aku hanya… mengangguk.
Gerakan kecil.
Nyaris tidak terlihat.
Tapi cukup.
Hening turun begitu cepat, menelan semuanya. Bahkan dengung mesin lift terdengar seperti menjauh.
Riyu tidak menatapku lagi.
Aku bisa mendengar ia menarik napas—sedikit panjang, sedikit tajam, seperti seseorang yang sedang menelan sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Lift terus turun.
Angka di panel berubah perlahan.
Detik berjalan terlalu lambat.
Ketika pintu akhirnya terbuka, kami melangkah keluar tanpa bicara.
Langkahku terasa berat.
Langkahnya terdengar datar.
Di koridor menuju parkiran, hanya ada gema sepatu kami—dua ritme yang dulu pernah terasa akrab, kini saling menjaga jarak. Tidak ada lagi obrolan ringan, tidak ada jeda untuk menunggu.
Hingga akhirnya kami berpisah menuju arah masing-masing.
Tanpa menoleh.
Tanpa pamit.
Dalam sunyi yang terasa jauh lebih bising dari keramaian mana pun.