Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #17

Hujan Yang Membuka Rahasia


Hari ini seharusnya menjadi langkah baru.

Langkah yang kupaksakan.

Langkah yang bahkan sejak pagi membuat dadaku terasa penuh seperti ada batu yang tak bisa dipindahkan.

Pertemuanku dengan Andre.

Aku berdiri lama di depan cermin, menata poni, merapikan baju, menarik napas panjang—berulang-ulang, seperti orang yang sedang belajar kembali menjadi manusia normal.

Lalu aku memaksa kakiku bergerak.

Satu langkah.

Dua langkah.

Kemudian menuruni tangga rumah dengan tubuh yang terasa dua kali lipat lebih berat.

Aku memilih naik bus.

Bukan karena hemat, bukan karena praktis—

tapi karena aku tak percaya pada diriku sendiri untuk menyeimbangkan motor ketika pikiranku sedang seberantakan ini.

Sepanjang perjalanan, pemandangan berganti, suara orang-orang bercampur, tapi pikiranku tidak ada di sana.

Tidak di dalam bus.

Tidak di tubuhku.

Tidak di hari itu.

Sesampainya di tempat pertemuan, aku melihat Andre dari jauh.

Pria sopan, rapi, datang tepat waktu.

Tidak ada yang salah dengannya.

Tidak ada alasan untuk pergi.

Tapi detik aku duduk, seluruh dunia seperti berputar.

Setiap kata yang keluar dari mulutnya hanya lewat begitu saja—tidak menempel, tidak menyentuh, tidak tinggal.

Aku berusaha fokus.

Berusaha menjadi orang yang normal.

Berusaha membuka hati seperti yang dilakukan semua orang.

Tapi hatiku seperti pintu yang ditutup rapat dari dalam.

Gagangnya berkarat.

Kuncinya hilang entah kapan.

Tiga puluh menit.

Itu batasnya.

Setelah itu aku hanya ingin pergi, secepat mungkin, sebelum wajahku menunjukkan sesuatu yang tak pantas dilihat.

“Maaf… aku harus pulang lebih awal,” ucapku, entah dengan senyum yang terlihat seperti apa.

Andre terkejut, tapi tidak memaksa.

Dan tanpa menatap ke belakang, aku berjalan keluar.

Langkahku cepat, napasku terburu-buru, seolah baru keluar dari ruangan yang terlalu sesak.

Aku tahu satu hal saat itu:

tidak akan ada pertemuan lain setelahnya.

Bukan karena Andre salah.

Bukan karena dia kurang.

Tapi karena hatiku…

masih belum selesai dari seseorang yang bahkan tidak pernah kumiliki.

Gerimis turun seperti jarum-jarum kecil yang menembus jaketku.

Tidak sakit, hanya… membuatku semakin sadar betapa kosongnya tubuhku saat itu.

Lihat selengkapnya