Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #18

Sunyi Yang Berdenyut Setelah Kejujuran


Malam ini setelah sekian lama, dadaku terasa lebih longgar.

Tidak ada sesak yang menumpuk.

Tidak ada pikiran yang berputar-putar sampai membuatku terjaga sampai fajar.

Tidak ada bayang-bayang Riyu yang menghanyutkanku ke lubang gelap yang sama setiap malam.

Aku berbaring di tempat tidur, rambutku masih sedikit lembap oleh hujan, tapi tubuhku terasa… ringan.

Aneh, bagaimana sebuah pengakuan yang begitu menakutkan justru membuatku bisa bernapas lagi.

Aku menatap langit-langit kamar, membiarkan keheningan mengisi ruang.

Tidak ada rencana buat besok.

Tidak ada ketakutan tentang apa yang akan dikatakan Riyu.

Tidak ada persiapan untuk menutupi diri lagi.

Aku sudah mengatakannya.

Itu batas terakhir yang bisa kulakukan.

Itu garis akhir dari semua penyamaran yang selama ini kulakukan sendirian.

Kalau besok Riyu menjauhi aku—aku siap.

Kalau dia bersikap canggung—tidak apa.

Kalau dia menegurku atau meminta jarak—aku rela.

Karena rasanya…

Lebih baik tahu bahwa aku sudah jujur sepenuhnya, daripada hidup dengan jantung yang terus menggedor dada setiap melihatnya.

Perlahan kelopak mataku menutup.

Ada rasa hangat samar mengalir dari dadaku ke seluruh tubuh, seperti ada sesuatu yang dilepaskan tanpa kusadari selama ini.

Malam ini, tanpa mimpi apa pun, tanpa airmata, tanpa gelisah—aku tertidur.

Akhirnya.



Pagi harinya langkahku terasa lebih ringan, seperti seseorang baru saja menurunkan beban dari punggungku.

Udara masih dingin, aroma pagi masih segar, dan untuk sesaat aku merasa… baik-baik saja.

Aku berdiri di depan lift, menunggu pintunya terbuka. Nafasku teratur. Bahuku tidak tegang. Aku tidak mengulang-ulang kemungkinan di kepalaku seperti biasanya.

Tapi semuanya berubah ketika pintu lift terbuka.

Begitu aku masuk, ruang sempit itu seolah langsung menelan seluruh keberanianku.

Lihat selengkapnya