
Agenda pertama hari ini adalah rapat pagi dengan Pak Damar.
Aku duduk di kursi yang sama seperti biasanya, membuka buku catatan, menyiapkan pulpen, berusaha menempatkan diri sepenuhnya pada pekerjaan. Ruang rapat dipenuhi aroma kopi dan kertas, suara kursi yang digeser, dan gumam ringan sebelum rapat dimulai.
“Baik, kita mulai,” suara Pak Damar terdengar tegas namun tenang. “Saya mau kita fokus ke progres minggu ini. Rea, laporan klien kemarin bagaimana?”
Aku sedikit tersentak, lalu mengangkat kepala.
“Sudah selesai, Pak. Ada revisi kecil di bagian anggaran, tapi sudah saya sesuaikan dengan permintaan terakhir klien.”
Pak Damar mengangguk. “Oke. Tolong kirimkan versi finalnya hari ini.”
“Siap, Pak.”
Riyu duduk di seberang meja. Diam. Fokus pada layar tabletnya. Tidak menatapku, tidak juga menghindar secara terang-terangan. Sikapnya profesional—terlalu profesional untuk seseorang yang semalam memenuhi kepalaku dengan begitu banyak kemungkinan.
“Riyu,” lanjut Pak Damar, “timeline proyek yang kemarin, bisa dipercepat?”
Riyu mengangkat pandangan. “Bisa, Pak. Tapi kita perlu koordinasi tambahan dengan tim desain. Kalau Rea sudah kirim data final hari ini, besok bisa langsung kami susun ulang.”
Aku mengangguk kecil. “Nanti siang aku kirim.”
Percakapan berjalan lancar. Terlalu lancar.
Seolah tidak ada apa pun yang menggantung di antara kami.
Seolah tidak ada pengakuan yang telah mengubah arah napas kami berdua.
Rapat berlangsung cukup lama, melewati jam makan siang tanpa terasa. Ketika akhirnya Pak Damar menutup dengan kalimat, “Terima kasih, kita lanjutkan masing-masing,” aku baru sadar betapa tegang pundakku sejak tadi.
---
Sepulang makan siang, aku kembali ke meja kerjaku. Rutinitas yang menenangkan—setidaknya biasanya begitu. Aku membuka buku catatan, berniat menuliskan poin-poin kecil dari rapat tadi agar tidak terlewat.
Namun jemariku berhenti.
Ada sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.
Sebuah kertas kecil terselip di antara halaman. Memo warna krem, dilipat rapi, ditulis dengan pulpen hitam.
Aku membukanya pelan.
Hanya satu kalimat.
'Kita bicara sepulang kerja.'
Tanpa nama.
Tanpa inisial.
Tanpa konteks.
Namun jantungku langsung jatuh, seolah mengenali gravitasi kalimat itu.
Aku tahu persis itu dari siapa.
Tulisan itu terlalu kukenal—rapi, tegas, sedikit condong ke kanan. Tulisan Riyu.
Telapak tanganku mendadak dingin. Punggungku meremang, seperti ada angin tipis yang menyusup tanpa permisi.
Kenapa harus hari ini?