
Sesampainya di rumah, aku langsung menjatuhkan diri di sofa.
Tubuhku mendarat tanpa hati-hati, seolah semua sendi menyerah bersamaan. Tidak ada sapaan pada ruang, tidak ada ritual melepas sepatu dengan rapi. Aku hanya ingin berhenti—berhenti berdiri, berhenti berpikir, berhenti menahan sesuatu yang sejak tadi menggerogoti dari dalam.
Mola berlari-lari kecil menghampiriku. Kakinya yang pendek menyentuh kakiku berulang kali, kepalanya menggesek pelan, ekornya bergerak cepat seperti tanda tanya yang hidup. Ia menatapku dengan mata bulatnya, penuh rasa ingin tahu, seolah bertanya kenapa aku begitu diam.
Aku tersenyum tipis. Satu sentuhan di kepalanya, satu usapan yang setengah hati.
“Iya… iya,” bisikku lirih, lebih pada diriku sendiri daripada padanya.
Namun senyum itu tidak bertahan lama. Begitu aku bangkit menuju kamar, sesuatu di dadaku runtuh pelan, seperti bangunan tua yang akhirnya menyerah pada retaknya sendiri.
Kamar gelap menyambutku dengan hening yang menekan. Aku menutup pintu, berdiri di tengah ruang, dan kakiku tiba-tiba menolak menopang tubuhku.
Aku tersungkur.
Tubuhku yang akhirnya menyerah ketika tidak ada lagi yang perlu dipertahankan.
Di lantai kamar yang dingin, seluruh keberanian yang kupaksakan sepanjang hari hancur begitu saja. Semua kalimat “aku nggak apa-apa”, semua senyum tipis, semua langkah tegar—luruh tanpa sisa.
Benarkah ada perasaan yang bisa benar-benar baik-baik saja setelah ditolak?
Tidak.
Tidak ada.
Hati yang pernah menginginkan seseorang tidak tahu caranya berhenti berharap. Bahkan ketika logika sudah berdiri di depan, menunjuk kenyataan dengan jelas. Bahkan ketika kata tidak sudah diucapkan tanpa ragu.
Dan saat harapan itu tidak bisa tercapai, tidak ada yang tersisa selain kehampaan—kehampaan yang menusuk setiap sudut, tidak tajam, tapi dalam. Terlalu dalam untuk dijelaskan.
Airmata mulai mengalir.
Awalnya satu.
Lalu dua.
Lalu tak terhitung.
Aku menutup wajah dengan kedua tangan, mencoba menahan suara, tapi tubuhku bergetar hebat. Tangisan ini bukan sekadar sedih. Ini kehancuran yang lambat, menyeluruh, dan tanpa ampun.
Aku menangis untuk semua waktu yang kuhabiskan diam-diam mencintai.
Untuk semua harapan kecil yang kupelihara sendirian.
Untuk keberanian yang akhirnya kukumpulkan—dan berakhir di kalimat yang singkat dan pasti.
Malam semakin larut. Lampu kamar hanya menyala redup. Dunia luar terasa jauh, seperti milik orang lain. Tapi aku tetap menangis.