
Keesokan paginya, aku kembali berdiri di depan cermin.
Mataku masih bengkak, tapi tidak separah kemarin. Setidaknya, aku bisa menipu dunia—walau tidak bisa menipu diriku sendiri. Aku mengompresnya beberapa menit sebelum berangkat, menempelkan kantong es sambil menatap pantulan wajah yang terlihat lebih tua dari usiaku.
Aku menarik napas panjang.
Baju sudah rapi.
Makeup sudah diaplikasikan dengan benar.
Rambut kusisir sedemikian rupa agar tidak ada yang terlihat salah.
“Aku udah pernah melewati yang serupa ini sebelumnya,” bisikku lirih pada bayangan di cermin.
Seolah kalimat itu bisa menjadi mantra. Seolah ia cukup kuat untuk menahan rasa lelah dan sakit yang masih menggantung di dada, belum benar-benar pergi.
Aku melangkah keluar rumah dengan langkah berat tapi pasti. Pintu tertutup di belakangku, dan untuk sesaat aku berdiri diam, memantapkan hati.
Hari ini, aku punya satu tujuan sederhana:
pura-pura baik-baik saja.
Itu bukan hal baru bagiku. Aku sudah sering melakukannya. Sudah terlalu sering sampai rasanya menjadi refleks. Senjata yang paling kukenal. Satu-satunya cara bertahan di antara tatapan orang lain yang tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam.
Lift, koridor, meja kerja—semuanya akan menjadi panggung untuk pertunjukan kecilku hari ini.
Senyum tipis.
Sapaan ringan.
Jawaban normal.
Aku akan melakukannya dengan baik. Aku selalu bisa.
Begitu memasuki ruangan kantor, mataku—seperti biasa—mencari satu meja itu lebih dulu.
Riyu melihatku sekilas.
Hanya sekilas.
Tidak lebih.
“Sakit apa, Rea?” suara Bu Rini menyapaku hangat, seperti biasanya.
“Cuma flu ringan, Bu,” jawabku, senyum kecil sudah terpasang di wajah.
“Kamu sih kerjanya keras banget, kan jadi sakit,” omelnya sambil berlalu.
Aku hanya mengangguk, menahan diri agar senyumku tidak runtuh di tengah jalan.