
Atas perintah Pak Damar, hari ini aku benar-benar terpaksa pergi keluar kantor bersama Riyu. Menghadiri konferensi industri yang sejak awal ingin kuhindari.
Rencana awalnya, Riyu akan ditemani Bu Siska. Tapi pagi itu, tepat di hari H, anak keduanya tiba-tiba demam. Tanpa banyak pertimbangan, Pak Damar langsung menunjukku sebagai pengganti.
Aku menolak di awal, mencoba menyelamatkan diri dengan alasan paling masuk akal yang kupunya.
“Maaf, Pak,” kataku dengan suara yang kuusahakan tetap stabil. “Saya harus menyelesaikan laporan yang tertunda kemarin.”
Pak Damar menatapku sebentar, lalu menggeleng kecil.
“Itu bisa ditunda. Tugas ini lebih penting,” katanya tegas. “Lagipula, cuma kamu yang cocok mendampingi Riyu.”
Kalimat terakhir itu seperti palu kecil yang memukul dadaku pelan tapi tepat sasaran.
Aku menoleh, menatap satu per satu anggota tim yang lain, berharap ada keajaiban. Tapi Bu Rini dan Bu Winda hanya mengangkat bahu, ekspresi mereka seperti berkata bukan aku. Riska pura-pura sibuk dengan keyboard-nya, mengetik sesuatu yang entah apa. Pak Anton malah mengangkat kedua tangan, menyerah bahkan sebelum diminta.
Tidak ada harapan.
Tidak ada jalan keluar.
Aku kembali menatap Pak Damar, lalu—tanpa sengaja—mataku bertemu dengan mata Riyu.
Ia tampak mengerti kegelisahanku. Bukan lewat kata-kata, tapi dari caranya menatapku sekilas. Tenang, datar, namun penuh arti. Ia tidak berkata apa pun. Diamnya justru lebih menenangkan… sekaligus lebih menegangkan.
Akhirnya aku menyerah.
Aku mengangguk pelan, menerima tugas itu—bukan karena siap, tapi karena aku tak ingin rekan lain salah paham. Tak ingin mereka menilai aku atau Riyu dengan cara yang salah.
Kami berangkat menggunakan dua mobil. Empat rekan dari tim lain memilih satu mobil bersama. Entah kebetulan atau kesengajaan, tak satu pun yang mau ikut mobil Riyu.
Seakan mereka sengaja memberi kami kesempatan untuk berduaan.
Dan bagiku, itu bukan kesempatan—itu siksaan.
Di perjalanan, duduk bersebelahan di dalam mobil, aku benar-benar tidak sanggup menatap wajahnya. Setiap kali aku merasa pandanganku hampir berbelok ke arahnya, aku buru-buru menatap jalan.
Aku yakin, jika mataku bertemu matanya, semua emosi yang selama ini kutahan akan runtuh. Aku akan menangis. Dan mungkin—aku tidak akan bisa berhenti.
Jadi aku menatap lurus ke depan.
Menelan napas.
Memaksa hatiku tetap diam.