
Suasana kantor cukup sepi pagi ini.
Aku melangkah pelan menuju pantry, tubuh terasa berat seperti membawa sisa malam yang belum selesai. Kantuk masih menekan kelopak mata, sementara bayangan laporan di meja seolah memanggil dari kejauhan. Aku hanya ingin kopi—sesuatu yang hangat, sesuatu yang netral, sesuatu yang tidak menyimpan emosi.
Aku menggeser pintu pantry perlahan.
Riyu sudah di sana.
Ia berdiri tenang di depan mesin kopi, gerakannya rapi dan terukur, seperti orang yang tidak sedang dikejar apa pun. Aroma kopi yang baru diseduh langsung memenuhi ruangan.
Refleks, ia menoleh.
Dan aku… membeku.
Detik itu, semua yang ingin kulakukan menghilang dari pikiranku. Aku tidak jadi membuat kopi. Tidak jadi berdiri sebentar untuk menenangkan diri. Tidak jadi mengatur napas.
Aku hanya tahu satu hal: aku harus pergi.
Tanpa berkata apa-apa, aku berbalik. Menahan napas, menahan degup jantung yang tiba-tiba terlalu keras, lalu melangkah meninggalkan pantry seolah tidak terjadi apa pun.
Dari sudut mataku, aku sempat menangkap tatapannya.
Tatapan yang terkejut.
Tatapan yang tidak menyangka aku akan pergi begitu saja.
Dadaku sesak. Bukan karena ia melihatku, tapi karena aku tahu—pergi seperti itu tidak sopan, tidak dewasa, tidak wajar. Tapi pagi ini, bahkan hal sederhana seperti berbagi ruangan dengannya terasa terlalu berat.
Aku menunduk, memaksa langkah tetap normal, seolah aku hanya lupa sesuatu di meja. Rupanya, bahkan bertemu di pantry pun menjadi ujian yang sulit kuhadapi.
Aku duduk di kursiku, mulai mengetik. Jari-jariku bergerak cepat di atas keyboard, bukan karena fokus, tapi karena aku butuh pelarian. Rutinitas selalu menjadi tempat aman bagiku—angka, huruf, laporan—semuanya tidak menuntut perasaan.
Tiba-tiba, bayangan jatuh di mejaku.
Riyu berdiri di belakangku.
Dengan tenang, ia meletakkan sebuah berkas di mejaku dan berkata singkat,
“Tolong rapikan ini.”
Tubuhku langsung menegang.
Napas terasa lebih pendek, seolah udara di sekitarku menipis. Tanganku seakan membeku di atas keyboard. Aku tidak menoleh.