
Sore itu, matahari Minggu terasa hangat di kulitku saat aku melangkah keluar dari minimarket. Kantong belanjaan kecil menggantung di tangan, isinya sederhana—teh, biskuit, dan beberapa hal yang tidak penting. Aku hanya ingin pulang. Membuat minuman hangat. Beristirahat. Menyimpan diri dari dunia.
Namun belum sempat aku menjauh dari pintu, sebuah suara memanggil namaku.
“Rea?”
Aku menoleh.
Andre.
Butuh beberapa detik sampai aku benar-benar mengenalinya. Rambutnya lebih pendek, tubuhnya lebih berisi, wajahnya sedikit berubah dari ingatanku. Pria yang dulu pernah dikenalkan Novi padaku—sudah lama sekali, sampai aku hampir lupa bahwa kami pernah duduk berhadapan, pernah bertukar cerita seadanya.
Kami berbincang sebentar. Basa-basi ringan tentang pekerjaan, tentang tempat tinggal, tentang hidup yang berjalan tanpa benar-benar saling bersinggungan. Aku berusaha sopan. Mengangguk. Tersenyum secukupnya. Tidak ada rasa, tidak ada ingatan yang ingin dipertahankan.
Hanya percakapan singkat dua orang yang hampir tidak punya keterhubungan apa pun.
Lalu aku menoleh.
Sekadar mengganti arah pandang.
Dan di sanalah dia.
Riyu.
Berdiri tak jauh dari kami. Entah sudah berapa lama. Entah sejak kapan ia melihat. Tatapan kami bertemu—hanya satu detik—tapi cukup untuk menghentikan napasku.
Ia tidak tersenyum. Tidak mengangguk. Tidak berpaling.
Wajahnya datar. Terlalu datar.
Seolah aku adalah sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat… bersama orang lain.
Dadaku terasa ditarik dari dalam. Nyeri itu padat, berat, menutup seluruh ruang untuk bernapas. Aku cepat-cepat menunduk, menelan ludah yang terasa pahit. Suara Andre mendadak terdengar jauh, kabur, meski ia masih berdiri tepat di depanku.
Sejenak, aku ingin pergi. Menghilang dari dua orang yang tiba-tiba terasa terlalu dekat, namun pada saat yang sama sangat jauh.
Aku menghela napas pelan.
Hari Minggu yang cerah itu berubah kelabu dalam sekejap.
---