
Haruskah aku senang?
Pertanyaan itu menghantam dadaku lebih keras daripada suara Riyu beberapa menit lalu. Lebih keras dari langkah kakiku sendiri yang gemetar, lebih keras dari detak jantung yang terasa tidak beraturan.
Berapa tahun aku menunggu?
Berapa malam aku menangis diam-diam?
Berapa kali aku memaksa diriku untuk berhenti berharap, hanya karena satu kenyataan pahit: dia memilih orang lain?
Dan kini… setelah semuanya berakhir, setelah aku dipaksa menelan penolakan tanpa sempat menawar, setelah malam-malam tanpa tidur yang kupeluk sendirian—baru sekarang dia mengatakannya?
Pandanganku kabur.
Bukan karena gerimis.
Bukan karena debu jalan.
Tapi karena air mata yang kembali mendesak keluarnya, melanggar semua janji yang kubuat pada diriku sendiri—bahwa aku tidak akan menangis lagi.
Aku tidak bisa menjawab.
Tidak bisa menatapnya.
Tidak bisa berdiri di sana sedetik pun lebih lama.
Aku mundur satu langkah.
Lalu satu langkah lagi, hingga akhirnya aku memutar tubuhku sepenuhnya.
Bukan ke arah toko.
Bukan ke arah tujuan awal.
Melainkan ke arah pulang.
Ke arah satu-satunya tempat di mana aku bisa runtuh tanpa harus ditatap oleh mata yang pernah kurelakan melukai.
Aku berjalan cepat, hampir terhuyung.
Mola menggeliat di gendonganku, seolah tahu hatiku kembali pecah.
Di belakangku, aku mendengar suara Riyu memanggil, pelan… bingung… cemas…
Tapi aku tidak berhenti.
Tidak boleh.
Tidak sanggup.