Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #26

Jangan Hari Ini


Pagi ini langkahku seperti diseret paksa oleh waktu.

Bukan berjalan—lebih seperti ditarik, dipaksa maju, sementara dadaku menolak ikut serta.

Setiap meter menuju kantor bukan mengurangi jarak, melainkan menambah beban.

Udara pagi yang biasanya ringan kini terasa menusuk, membuat napasku pendek, tersendat—seakan tubuhku tahu aku belum siap untuk apa pun yang menungguku hari ini.

Begitu turun dari bus, deru mesin mobil membuatku refleks menoleh.

Dan saat itu… mobil Riyu melintas pelan, seolah sengaja memberi waktu untuk dilihat.

Dari balik kaca yang sedikit gelap, aku menangkap tatapannya.

Hanya sepersekian detik.

Namun cukup untuk membuat seluruh tubuhku menegang.

Gigiku merapat tanpa sadar.

Detak jantung melonjak tinggi lalu jatuh seketika, seperti dihantam sesuatu yang tak terlihat.

Aku segera mengalihkan pandangan.

Langkahku kupaksa stabil, meski lutut rasanya nyaris menyerah.

Entah kenapa, rasanya seperti berjalan menuju badai yang sudah tahu namanya.

Aku benar-benar tidak ingin bertemu dengannya pagi ini.

Tubuhku masih rapuh, pikiranku belum selesai merangkai keberanian.

Namun gedung kantor tidak menyediakan ruang untuk pelarian—dan aku tidak punya tenaga untuk memanjat tangga sampai lantai tujuh.

Aku berdiri di depan pintu lift yang hampir tertutup.

Jari telunjukku gemetar sebelum menekan tombol.

Di dalam… sudah ada Riyu.

Dadaku menegang begitu pintu mulai terbuka.

Aku sempat berpikir untuk kabur ke kafe seperti dulu—bersembunyi di balik aroma kopi dan pura-pura sibuk—tapi apa gunanya?

Menghindar tidak akan selamanya menyelamatkanku.

Aku melangkah masuk.

Tanpa menatap ke arahnya.

Ruang itu terasa terlalu kecil, terlalu sunyi, terlalu penuh oleh sesuatu yang tak terlihat.

Lalu—tepat sebelum pintu menutup rapat, sebuah tangan menahannya dari luar.

“Eh, tunggu!”

Pak Anton masuk dengan napas sedikit tersengal.

Aku hampir mengembuskan napas lega.

Seperti dunia memberiku celah bernapas lebih lama.

Lift bergerak naik.

Degup di dadaku turun sedikit—setidaknya aku tidak hanya berdua dengannya pagi ini.

“Pagi Pak Riyu, pagi Rea,” sapa Pak Anton ceria.

“Pagi, Pak,” jawab kami hampir bersamaan.

“Kalian yang masih muda kok pagi-pagi udah kelihatan lemas. Kayak saya dong, semangat,” candanya.

“Bapak mah emang beda, nggak bisa disamain,” jawab Riyu.

Mereka tertawa.

Aku diam.

Dari sudut mataku, aku melihat Riyu melirik ke arahku.

Tatapan singkat—tapi cukup untuk membuat tengkukku mengeras.

Begitu pintu lift terbuka, aku berjalan cepat menuju mejaku, menata napas yang sejak dari lift belum juga stabil.

Aku tidak berniat memperhatikan apa pun—apalagi dia.

Namun begitu duduk, mataku justru kembali mencari arah yang ingin kuhindari.

Tatapan itu.

Tatapan yang sudah kukenal bertahun-tahun.

Yang dulu selalu terasa aman—

kini membuatku ingin bersembunyi.

Mata kami bertemu.

Lihat selengkapnya