Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #27

Langkah Yang Menjauh, Hati Yang Tertinggal


Keesokan harinya di kantor, suasananya masih sama—atau mungkin justru lebih menekan dari sebelumnya.

Udara terasa lebih berat, seolah setiap orang membawa beban yang tak terlihat, dan aku… aku membawa milikku sendiri.

Aku masuk sambil menunduk, berharap bisa menyelinap tanpa harus bertemu siapa pun, tanpa harus menjelaskan apa pun. Tapi harapan itu runtuh bahkan sebelum aku sempat duduk.

Dari sudut mataku, aku langsung melihatnya.

Riyu.

Ia duduk di mejanya, ponsel di tangan, ibu jarinya mengetuk-ngetuk layar yang tidak berubah. Gerakannya berulang, tak sabar, seperti seseorang yang menunggu jawaban dari sesuatu yang tidak mau menjawab balik. Raut wajahnya jelas gelisah. Bukan gelisah yang tenang. Bukan gelisah yang biasa.

Benar-benar gelisah.

Selama tiga tahun kami bekerja bersama, aku belum pernah melihat Riyu seperti itu. Bahkan ketika istrinya meninggal dulu—ketika semua orang mengira dia akan runtuh—dia tetap terlihat tenang, terkontrol, seperti seseorang yang memegang rapuhnya dunia dengan satu tangan yang tidak pernah bergetar.

Tapi hari ini…

Riyu tidak seperti Riyu.

Beberapa kali ia mengangkat kepala, menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari seseorang. Dan aku tahu siapa yang ia cari.

Begitu aku duduk di mejaku, ponselku bergetar.

Re, nanti makan siang bareng ya.

Dadaku langsung mengencang.

Aku menatap layar itu tanpa berkedip. Kata-kata sederhana itu terasa jauh lebih berat daripada yang seharusnya.

Aku tidak membalas.

Belum lima menit berlalu, ponselku kembali bergetar.

Re, nanti aku antar pulang ya.

Detak jantungku melonjak tanpa izin. Nafasku pendek, seolah ruang di paru-paruku menyempit hanya untuk satu nama itu saja.

Aku masih tidak membalas.

Jari-jariku membeku di atas layar. Tidak bergerak. Tidak tahu harus bergerak ke mana. Lalu perlahan, seperti orang yang melakukan sesuatu yang dilarang, aku mematikan layar dan menyelipkan ponsel itu ke bawah meja.

Namun aku tetap bisa merasakannya.

Tatapan itu.

Dari kejauhan, seperti benang tipis yang menarik tanpa suara. Seolah Riyu sedang mencoba membaca pikiranku, atau sekadar memastikan aku benar-benar masih ada di tempatku—tidak menghilang seperti kemarin.

Lihat selengkapnya