
Hari ini aku begitu tenggelam dalam pekerjaan sampai-sampai waktu terasa seperti dilipat.
Jam-jam berlalu tanpa suara, tanpa jeda, seolah pikiranku sengaja bersembunyi di balik layar agar tidak perlu kembali ke perasaan yang terlalu berat untuk ditanggung.
Ketika akhirnya aku mengangkat wajah dari monitor, dunia terasa berubah.
Kantor yang biasanya riuh telah menjadi ruang sunyi—lampu-lampu putih menyala dingin, meja-meja kosong berjajar seperti saksi bisu, kursi-kursi berhenti berderit, diam pada tempatnya masing-masing.
Hanya ada satu orang.
Riyu.
Masih duduk di tempatnya, punggung sedikit membungkuk, seolah waktu menunggunya sama kerasnya seperti ia menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.
Jantungku langsung kehilangan ritmenya.
Aku buru-buru merapikan barang-barangku, gerakanku kaku dan tergesa, berharap bisa pergi sebelum sesuatu yang tidak siap kuhadapi terjadi. Aku memasukkan buku catatan ke dalam tas, menutup laptop terlalu cepat, bahkan hampir menjatuhkan ponselku sendiri.
Namun sebelum aku sempat berdiri, terdengar suara kursi bergeser pelan.
Dan ketika aku menoleh, Riyu sudah berdiri di sampingku.
Terlalu dekat.
Aroma yang kukenal—hangat, tenang, dan menyakitkan—langsung menyergap. Kakiku mendadak lemas, seperti sendi-sendi menolak bekerja sama denganku. Tapi aku mengangkat dagu sedikit, memaksa diriku terlihat kuat, mencoba memegang kendali atas tubuh yang gemetar halus oleh kecemasan yang tak bisa kusembunyikan.
Hening menyergap kami.
Sunyi yang rapat, berat, seolah menunggu satu kata saja untuk runtuh.
“Re…”
Suara Riyu terdengar berbeda. Retak. Rapuh.
“Tolong jangan menghindariku kayak gini.”
Dadaku bergetar.
Aku diam. Tetap diam. Karena jika aku bicara, aku tahu, semua benteng yang kubangun akan hancur dalam satu tarikan napas.
“Aku tahu…” Ia mengepalkan tangan, begitu kuat sampai buku jarinya memutih. “Aku udah banyak banget nyakitin kamu.”
Nada suaranya turun, hampir seperti orang yang kehilangan pegangan.
“Tapi tolong… beri aku satu kesempatan aja.”
Dadaku bergemuruh. Panas. Sesak.
Seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, meminta keluar, meminta diakui. Tapi aku masih diam, menahan diriku di tepi jurang yang sama berbahayanya dengan jatuh.
Lalu Riyu berkata lagi, lirih, hampir putus asa.