Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #29

Di Ambang Pulang


Begitu mobil berhenti di depan rumah, aku tidak mengatakan apa pun.

Kata-kata terasa terlalu berat untuk dikeluarkan, seolah jika aku membuka mulut, semuanya akan runtuh lagi.

Riyu ikut turun.

Dan langkahku terlalu lemah untuk menegur atau mengusirnya.

Aku hanya berjalan… dan dia mengikuti di belakang, diam seperti bayangan yang setia, tapi juga menakutkan—karena bayangan selalu tahu ke mana tubuh aslinya pergi.

Pintuku terbuka.

Aku masuk.

Dia masuk.

Semudah itu.

Seolah batas yang selama ini kubangun dengan air mata dan ketakutan runtuh tanpa suara.

Aku menjatuhkan diri di sofa.

Tubuhku menyerah, seperti tidak lagi punya tenaga untuk menahan apa pun.

Belum sempat aku menarik napas dengan benar, Riyu sudah berjongkok di depanku.

Terlalu dekat.

Posisi yang membuatku terkejut, membuatku tidak siap menghadapi sorot matanya yang telanjang—tanpa topeng, tanpa jarak.

Kedua tanganku digenggamnya.

Hangat.

Kuat.

Seperti ingin memastikan aku benar-benar ada.

“Re…” katanya pelan.

Hanya satu suku kata.

Namun tatapannya memaksa hatiku membuka semua luka yang selama ini kutahan rapat.

Aku ingin memalingkan wajah.

Ingin kabur lagi.

Namun air mata justru jatuh lebih dulu—mengkhianatiku, menghancurkan semua pertahanan yang tersisa seperti pasir yang tersapu ombak.

Riyu perlahan bangkit dan duduk di sampingku.

Tanpa ragu, ia menarikku ke pelukannya lagi—lebih erat, lebih pasti, seolah dirinya takut kehilangan kesempatan kedua yang bahkan belum tentu kuberikan.

Aku tidak melawan.

Tidak bertanya.

Tidak meminta penjelasan.

Aku hanya membiarkan tubuhku jatuh ke dadanya, merasakan ritme napasnya yang hangat di atas kepalaku.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku berhenti menahan diri.

Tidak ada satu kalimat pun terucap.

Lihat selengkapnya