Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #30

Belajar Menjaga Jarak


Esok paginya, sebelum aku sempat menegakkan punggung dan benar-benar masuk ke mode “kerja”, sebuah pesan dari Riyu masuk.

Re, aku jemput kamu ya?

Aku menatap layar itu lama—terlalu lama.

Ada bagian dari diriku yang nyaris saja mengetik boleh tanpa berpikir.

Jari-jariku bahkan sempat bergerak sedikit.

Tapi aku berhenti.

Arah rumah kami berlawanan.

Perjalanan akan memakan waktu lebih lama untuknya.

Dan yang lebih kutakuti dari semua itu… adalah diriku sendiri.

Aku tidak ingin terlalu cepat bersandar padanya.

Tidak ingin menggantungkan kebahagiaanku pada kehadirannya.

Tidak ingin membiarkan diriku bergantung sedalam itu—belum sekarang.

Dengan napas yang kutarik panjang, aku mengetik:

Nggak usah, Riyu. Aku akan pergi sendiri.

Singkat.

Jelas.

Tanpa tambahan apa pun.

Begitu kukirim, jantungku sedikit mencelos—seperti ada tali halus yang ditarik pelan dari dadaku.

Namun aku tidak menarik kembali pesanku.

Aku harus mulai menjaga diriku juga.

Saat layar ponsel menggelap, ada rasa aneh di dadaku—lega dan perih menyerempet dalam satu tarikan napas.

Aku berjalan keluar rumah dan menutup pintu perlahan.

Hari ini aku melangkah dengan caraku sendiri.

Pelan-pelan.

Tidak tergesa-gesa.

Tidak bergantung pada siapa pun.

Bahkan pada seseorang yang kini kucintai… dan akhirnya mencintaiku juga.


---


Begitu pintu ruangan terbuka, hawa sejuk AC menyentuh kulitku.

Dan sebelum aku sempat melangkah lebih jauh, mataku langsung bertemu dengan sesuatu yang membuat langkahku terhenti sepersekian detik.

Senyum itu.

Senyum hangat Riyu.

Bukan senyum tipis yang penuh beban seperti beberapa minggu terakhir, melainkan senyum lembut—senyum yang dulu pertama kali muncul saat ia memperkenalkan diri sebagai ketua tim.

Rambutnya, yang kemarin sedikit panjang dan tidak terurus, hari ini sudah dipangkas rapi.

Model comma hair yang selalu ia suka.

Membingkai wajah ovalnya dengan pas, membuatnya tampak segar.

Jas rapi, warna yang ia sukai.

Lihat selengkapnya