Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #31

Hal-Hal Kecil Yang Diingat


Sore itu, setelah semua pekerjaan akhirnya selesai dan layar komputerku benar-benar padam, ponselku kembali bergetar.

Pesan dari Riyu.

Pendek. Sederhana.

Namun cukup membuat napasku tersangkut sepersekian detik.

Pulang bareng? Kita makan dulu.

Aku menatap layar itu lebih lama dari seharusnya.

Bukan karena ragu—melainkan karena tubuhku lebih cepat bereaksi daripada pikiranku.

Ada degup kecil yang berisik di dada.

Dan sekarang, di depan mobilnya, aku masih menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tak ada satu pun rekan kantor yang lewat. Begitu yakin, aku membuka pintu dan masuk cepat-cepat—seperti pencuri yang takut ketahuan.

Begitu pintu tertutup, aroma kabin mobil yang bersih dan hangat menyambutku.

Ada wangi yang samar, akrab, dan entah kenapa menenangkan.

Riyu sudah duduk di balik kemudi.

Satu tangannya santai di setir.

Wajahnya tetap tenang.

Seolah siang tadi di pantry bukan apa-apa.

Seolah melihatku gugup bukan hal baru baginya.

“Ada yang lihat?” tanyanya, tanpa benar-benar menoleh. Hanya sekilas lirikan dari ekor mata.

Aku menggeleng cepat. Mungkin terlalu cepat.

“Nggak. Kayaknya aman.”

Sudut bibirnya terangkat sedikit—entah mengejek, entah sekadar menikmati kepanikanku.

“Baik,” katanya pelan.

“Kalau gitu… kita pergi.”

Mobil mulai melaju.

Lampu-lampu kota menyelinap masuk lewat jendela, satu per satu, seperti potongan cahaya yang jatuh pelan ke dalam senja.

Aku bersandar, berusaha terlihat tenang, padahal jantungku masih berdebar cepat.

Bukan karena takut ketahuan orang kantor.

Melainkan karena duduk berdua di ruang sempit ini… dengan seseorang yang membuatku kehilangan ritme napas hanya dengan keberadaannya.

Riyu tetap tenang.

Sangat tenang.

Sementara aku mulai menyadari betapa berbahayanya caranya membuat segalanya terasa biasa—padahal jelas tidak.

“Kamu mau makan apa?” tanyanya sambil menoleh sebentar.

“Apa aja,” jawabku cepat.

“Aku ikut kamu.”

Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah kafe terbuka. Di balik pagar yang tidak terlalu tinggi, meja-meja kayu jati berpayung tersusun rapi. Lampu-lampu gantung menggantung rendah, memancarkan cahaya hangat yang membuat tempat itu terasa hidup tanpa riuh.

Tidak terlalu ramai.

Beberapa pasang muda-mudi.

Lihat selengkapnya