
Beberapa hari terakhir, kantor terasa jauh lebih tenang dari biasanya.
Pekerjaan tidak terlalu menumpuk, dan di sela-sela kesibukan, selalu ada canda kecil yang mengalir begitu saja. Tawa singkat. Obrolan ringan. Seperti napas panjang setelah sekian lama menahan lelah.
Siang itu, belum ada yang beranjak makan. Aku masih merapikan berkas di meja ketika suara itu terdengar—tidak keras, tapi jernih. Terlalu jernih sampai membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.
“Kita makan yuk, Re!”
Tanganku berhenti bergerak.
Kepalaku terangkat perlahan.
Beberapa orang menoleh. Ada alis yang terangkat, ada senyum yang ditahan, ada jeda aneh yang membuat dadaku terasa sempit. Dalam hitungan detik, wajahku memanas.
“Ada apa ini?” suara Bu Rini terdengar pelan, tapi cukup untuk membuatku semakin kaku. Tatapannya beralih padaku, heran… dan penuh rasa ingin tahu.
Aku langsung melotot ke arah Riyu.
Tatapan yang berisi peringatan, penolakan, dan permohonan dalam satu tarikan napas.
Namun dia hanya tersenyum santai.
Seperti seseorang yang sedang menikmati teh sore, bukan seseorang yang baru saja melempar bom kecil ke tengah ruangan.
Ia melangkah mendekat. Pelan. Tenang.
Lalu menunduk sedikit ke arahku dan berbisik, suaranya cukup rendah tapi terasa sangat dekat.
“Aku cuma nggak mau ada yang salah paham lagi,” katanya.
“Baik padaku… ataupun padamu.”
Jantungku serasa berhenti.
Dan sebelum aku sempat membuka mulut—sebelum aku sempat menyusun satu alasan untuk kabur—Riyu menoleh ke seluruh ruangan.
Suaranya tetap tenang. Terlalu tenang.
Justru itu yang membuat udara terasa semakin berat.
“Aku sedang mengejar cinta wanita ini.”
Hening.
Detik itu juga, hening berubah menjadi gemuruh kecil.
Ada gumaman kaget.
Ada yang menahan tawa.
Ada yang menatap tanpa berkedip.
Sementara aku?
Membeku. Total.
Seolah dunia berhenti berputar tepat di dadaku.
Aku tidak marah. Tidak benar-benar.
Aku hanya… belum siap.
Kata-kata Riyu barusan menggantung di udara seperti balon yang tak kunjung pecah. Tapi di balik semua kepanikan itu, ada satu hal kecil yang entah kenapa membuatku bisa bernapas: dia bilang mengejar. Bukan sudah bersama. Bukan memiliki. Setidaknya… itu.