
Hujan turun sederas-derasnya di luar, menghantam genting rumah seperti genderang yang tak sabar. Rencana menonton pun batal begitu saja. Tapi entah mengapa, suasana justru berubah menjadi sesuatu yang sama sekali tidak pernah kubayangkan—lebih sunyi, lebih dekat, dan jauh lebih intim.
Aku duduk di sofa, tepat di antara kedua kaki Riyu.
Satu kakinya naik ke sandaran, santai—seolah ia sudah terbiasa berada di rumah ini.
Satu lagi menjuntai ke bawah, mengapitku dalam lingkar yang terasa… aman. Terlalu aman, sampai jantungku lupa bagaimana caranya berdetak dengan normal.
Tangannya melingkar di pinggangku. Hangat. Berat.
Posesif dengan cara yang lembut.
Dan aku tahu—posisi ini bukan ideku.
Riyu-lah yang menarikku mendekat, menempatkanku di sana seperti sesuatu yang sudah lama ia inginkan… dan akhirnya ia miliki.
“Kamu nggak apa-apa kan kita nggak jadi nonton?” tanyanya pelan.
Suaranya nyaris kalah oleh deru hujan.
Aku hanya mengangguk.
Takut kalau bicara, suaraku akan gemetar dan mengkhianati semua yang sedang kurasakan.
Riyu menunduk sedikit, dagunya menyentuh rambutku. Napasnya menyapu puncak kepalaku—hangat, pelan, dan cukup untuk membuatku terasa seperti tersengat arus kecil.
“Lain kali pasti bisa,” katanya lagi.
Dia memang begitu.
Dengan pengalaman hidupnya, dengan hatinya yang pernah patah dan perlahan belajar berdiri lagi, Riyu mencintaiku dengan cara yang berbeda—tenang, penuh pertimbangan, tapi langsung menyusup sampai ke dasar tulang.
Setiap ada kesempatan, jemarinya selalu mencari tanganku.
Menggenggam.
Mengusap.
Mengunci.
Aku bukannya tidak suka—justru sebaliknya.
Hanya saja tubuhku seperti belum sepenuhnya siap menerima kenyataan bahwa aku dicintai sedalam ini.
Jantungku berisik.
Kepalaku berputar.
Hujan menggelegar di luar, tapi di sini… di dalam pelukan Riyu… semua suara lain seperti menghilang.
Dagunya bertumpu pelan di pundakku. Beratnya pas—cukup terasa, cukup menenangkan. Dunia mengecil hanya pada sofa sempit ini.
“Waktu kecil aku sering mandi hujan,” katanya tiba-tiba, suaranya bergetar lembut di dekat telingaku.