
Jam makan siang terasa lebih tenang tanpa Riyu di kantor—atau setidaknya begitu yang coba kuyakini. Aku duduk berhadapan dengan Bu Rini, berusaha fokus pada nasi kotak dan obrolan ringan seputar pekerjaan, deadline, dan klien yang tidak pernah benar-benar puas.
Hingga, tiba-tiba—
“Udah ada kemajuan, Re?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Bu Rini. Ringan, santai, seolah sedang bertanya tentang cuaca. Bahkan sekarang… Bu Rini ikut-ikutan memanggilku Re.
Sendokku berhenti di udara.
Wajahku langsung panas, seperti baru saja dikeluarkan dari oven.
“A-apa, Bu?” tanyaku, pura-pura polos.
Padahal aku tahu persis apa maksudnya.
Bu Rini tersenyum geli. Matanya menyipit, seperti seseorang yang sudah membaca semua yang berusaha kusembunyikan rapat-rapat.
“Pelan-pelan aja, Bu,” jawabku akhirnya, mencoba terdengar tenang sambil menusuk ayam yang sama sekali tidak bersalah.
Tapi Bu Rini bukan tipe yang mudah dialihkan.
“Rea…” katanya sambil sedikit mendekat, suaranya lebih pelan tapi justru terasa menusuk, “jangan mikir lama-lama. Pria kayak Pak Riyu itu selalu menarik perhatian perempuan. Kalau kamu suka, kunci aja.”
Aku hampir tersedak.
Kunci??
Astaga.
“Iya, Rea,” suara lain menyela. Bu Winda—entah sejak kapan sudah duduk di sampingku—menarik kursi dengan santai.
“Nanti kalau kalian nikah, kami bakal kasih amplop yang tebal.”
Sendokku benar-benar berhenti.
Nikah?
Hubungan kami baru hitungan minggu. Bahkan aku sendiri masih belajar menenangkan jantung setiap kali Riyu tersenyum padaku. Tapi aku hanya mengangguk pelan—lebih karena refleks daripada jawaban.
Bu Rini dan Bu Winda tertawa kecil, menikmati reaksiku seolah ini tontonan paling seru hari ini.
Dan aku?
Aku hanya berharap nasi di depanku bisa kupakai untuk menutupi wajahku yang memerah sampai ke telinga.
---
Sore itu, setelah pulang kerja, Riyu mengajakku menonton.
“Ganti yang kemarin nggak jadi,” katanya ringan.
Kami baru saja keluar dari bioskop, masih dibungkus hangatnya cerita film dan riuh langkah orang-orang di mall. Aku masih membawa perasaan lembut itu… sampai sebuah suara memanggil dari belakang.
“Kak Riyu…”
Kami refleks menoleh.
Seorang gadis muda—mungkin baru masuk kuliah—berlari kecil ke arah kami. Rambutnya pendek sebahu, wajahnya segar, dan caranya menyebut nama Riyu terdengar… terlalu akrab.
Aku melihat wajah Riyu sedikit menegang. Hanya sekilas. Tapi cukup untuk membuat dadaku ikut menegang.
Gadis itu berhenti tepat di depan kami. Matanya melirik ke arahku.
Cepat.
Sinis.
Cukup untuk menusuk sesuatu di dalam hatiku.
“Kakak udah lama nggak ke rumah,” katanya, nada suaranya setengah manja, setengah menuntut.
“Mami sering kangen, tahu… sama kakak.”
Aku menatap Riyu.
Tidak ada senyum.
Tidak ada kehangatan.
Hanya wajah datar yang sulit kubaca.
Riyu membuka mulut, seolah ingin memperkenalkanku.
“Ini—”
Namun gadis itu memotong sebelum kalimatnya selesai.
Ia mundur selangkah, tersenyum tipis ke arah Riyu.