Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #35

Langkah Kecil Malam Ini


Sudah sebulan sejak kami memutuskan untuk benar-benar bersama, dan sejak itu jantungku seolah tak pernah berdetak normal setiap kali nama Riyu muncul di kepalaku.

Malam ini—debarannya dua kali lipat.

Aku menggenggam lengan Riyu saat kami melangkah masuk ke restoran. Ada gugup yang manis, ada bangga yang tak bisa kusembunyikan—seperti anak kecil yang akhirnya boleh memamerkan sesuatu yang paling berharga.

“Ada yang mau aku kenalkan,” kataku tadi, suara kecil tapi tak bisa menyembunyikan senyumku.

Begitu pintu restoran terbuka, aku melihat Novi dan suami bulenya, Rehan Miller, sudah duduk di salah satu sudut. Novi sedang memainkan ponselnya, sementara Rehan tampak membaca menu.

Tapi begitu kami mendekat, Novi menoleh—matanya langsung membesar, mulutnya refleks tertutup oleh tangannya.

Aku bisa mendengar napasku sendiri saat itu.

“Nov…” panggilku pelan.

Novi bangkit setengah berdiri, matanya bolak-balik antara aku dan Riyu seperti sedang menonton plot twist sinetron.

Aku tertawa kaku sambil mengenalkan Riyu pada mereka. Lalu mereka saling berjabat tangan dengan sopan.

Tiba-tiba Novi menarik tanganku ke samping. Tidak keras—cukup untuk membuat Riyu mengangkat alis, penasaran.

Begitu kami cukup jauh, Novi mendekatkan wajahnya ke wajahku, bisikannya seperti peluru yang langsung menembus pipiku:

“So this is him. Jadi ini yang bikin kamu galau bertahun-tahun.”

Wajahku memanas—bukan lagi merah, tapi nyaris mendidih sampai ke telinga. Aku menutup wajah dengan tangan.

“Astaga, Nov…” desisku.

Novi menahan tawa, bahunya bergetar. “Oh my God, Rea. Finally.”

Ia menepuk bahuku gemas. “Pantes kamu drama. Kalau model begini… ya ampun. I mean—I get it now.”

Aku hanya bisa memelototinya, tapi senyumku tidak bisa ditahan.

Saat kami kembali ke meja, Riyu menatapku dengan senyum kecil yang menggoda, seolah tahu aku baru saja “diadili” oleh sahabatku sendiri.

“Semua baik?” tanyanya lembut.

Aku mengangguk cepat—terlalu cepat.

“Ba-baik,” jawabku sambil menunduk.

Novi menyikutku dari belakang.

“Ya ampun, pipimu merah banget, Rea…”

Aku benar-benar ingin menghilang ke bawah meja.

Tapi di dalam hati—aku bahagia. Bahagia karena akhirnya mengenalkan Riyu pada orang yang paling paham perjalanan panjangku. Bahagia karena rahasia yang dulu kusimpan rapat kini duduk rapi di sampingku, nyata.

Dan ketika aku menoleh, Riyu menatapku seolah gadis pemalu itu adalah satu-satunya yang ingin ia genggam malam ini.

Kami duduk.

Rehan menyambut Riyu dengan anggukan ramah, tampak jauh lebih tenang dibanding Novi yang masih belum bisa berhenti tersenyum geli melihat pipiku yang merah.

Novi bersandar di kursi, menatap kami berdua seperti sedang menonton film romance langsung di depan mata.

“Aku masih nggak percaya,” gumamnya. “Rea… akhirnya.”

Aku menendang kakinya pelan di bawah meja.

“Au!” serunya, lalu tertawa lagi.

Riyu hanya menahan tawa, matanya melirikku sekilas, lembut. Ada sesuatu dalam tatapan itu… seolah ia ingin menggenggam tanganku saat itu juga tapi menahan diri karena kami sedang bersama orang lain.

Pelayan datang membawa menu, memberi jeda. Tapi tentu saja Novi tidak pernah benar-benar diam.

“Jadi… kalian gimana? Udah berapa lama?”

Nada suaranya dibuat senormal mungkin, tapi matanya berbinar penuh rasa kepo.

“Sebulan,” jawabku cepat.

“Sebulan?!” Novi hampir berdiri. “Are you kidding me?”

Rehan menahan lengannya. “Nov…”

Riyu tersenyum kecil. “Resminya sebulan. Tapi… sudah cukup lama sebenarnya saya menyukai Rea.”

Deg.

Aku menatapnya, tidak siap mendengar itu di depan orang lain. Novi menutup mulutnya lebih keras, suaranya tercekik,

Lihat selengkapnya