
Rapat baru saja selesai ketika suara kursi diseret dan langkah kaki satu per satu menghilang dari ruang rapat. Pendingin ruangan masih menyala, membuat udara terasa dingin dan hening. Dalam beberapa menit, hanya tersisa suara ketikan laptop Riyu—ritmis, pelan—dan napas kami yang seolah ikut menyesuaikan diri dengan keheningan.
Aku merapikan catatan, berniat keluar lebih dulu. Namun saat melintas di belakang kursinya, ponsel Riyu yang tergeletak di samping laptop tiba-tiba bergetar.
Ting.
Sebuah alarm kecil muncul di sudut layar ponselnya—cukup jelas untuk terbaca dari tempatku berdiri.
Reminder: Besok ultah Inara.
Langkahku terhenti sepersekian detik.
Riyu cepat mematikan layar, reflek. Seolah yakin aku tidak sempat melihatnya.
Tapi aku sudah melihat. Dan yang mengejutkanku—perasaanku tidak runtuh seperti dulu. Tidak ada nyeri tajam, tidak ada rasa terancam. Hanya sebuah jeda sunyi di dalam dada.
“Re?”
Dia menoleh, suara rendah, hampir gugup.
Aku menghembuskan napas perlahan, lalu bertanya tanpa keraguan,
“Kamu masih merindukannya?”
Riyu terlonjak kecil.
Wajahnya seketika tegang. Matanya menatapku—mencari cemburu, mencari luka, mencari keretakan.
Tapi ia tidak menemukannya.
Karena rasa cemburu itu sudah lama berlalu.
Sudah ditelan waktu, ditelan semua luka yang pernah aku tanggung sendirian.
Kini, yang tersisa hanya pengertian.
Aku mendekat.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku memeluknya dari belakang. Kedua lenganku melingkar di dadanya, pipiku menyentuh pundaknya.
“Nggak apa-apa,” bisikku pelan, “aku nggak cemburu, Riyu. Aku akan senang kalau suatu hari nanti kamu bisa cerita tentang dia ke aku.”
Tubuh Riyu menegang, lalu perlahan melembut di dalam pelukanku.
Tangannya terangkat, mencari tanganku, menggenggamnya erat—erat sekali—seolah takut kehilangan sesuatu yang baru saja ia temukan.
Dia memutar tubuhnya perlahan hingga kami saling berhadapan.
Matanya berkaca halus, bukan sedih, tapi tersentuh sampai ke dalam.
“Re…” suaranya nyaris pecah.
Aku membalas dengan senyum tipis.
Tanpa kata-kata, tanpa tuntutan.
Riyu menunduk sedikit.
Dan bibirnya menyentuh bibirku.
Sebuah ciuman lembut—lebih lembut dari biasanya—seperti ucapan terima kasih, seperti permintaan maaf yang tidak pernah ia ucapkan, seperti kelegaan karena aku memahami bagian dirinya yang paling rapuh.
Ketika ia menjauh sedikit, dahinya masih menempel di dahiku.
“Makasih…” bisiknya, “udah jadi rumah baru buatku.”
Aku hanya menarik napas pelan, merasakan hangatnya dekat sekali di dadaku.
Dan untuk pertama kalinya, masa lalu yang dulu menakutiku… terasa tidak lagi mengancam.