
Keramaian di kawasan kuliner malam itu terasa seperti riuh yang tak pernah berhenti. Musik lembut dari tenant minuman bercampur dengan suara pengunjung yang bercanda, aroma makanan memutari udara. Di meja kami, kantong-kantong makanan menumpuk: dimsum yang masih mengepul, takoyaki panas, seblak dengan aroma pedas yang menggoda, roti bakar manis, dan dua minuman dingin yang mulai berembun.
Tapi dari semua hal yang memenuhi pandanganku, tidak ada yang lebih mencolok daripada kenyataan bahwa setiap beberapa menit, ada saja perempuan muda yang menoleh ke arah kami.
Ke arah dia.
Aku melihat dari sudut mata—rompi hitam yang melewati meja kami sempat melirik dua kali; dua gadis SMA di meja samping menyenggol temannya lalu berbisik sambil menatap ke arah Riyu; bahkan seorang ibu muda yang lewat sempat menahan langkahnya sesaat sebelum tersenyum kecil.
Dan di tengah semua itu, Riyu hanya… makan.
Tenang.
Tidak menyadari apa pun, atau pura-pura tidak menyadari.
Dengan tangan panjangnya, dia menusuk satu dimsum, meniup sedikit, lalu menyodorkannya padaku.
“Nih. Ini yang kamu suka, kan?”
Aku mengangguk, tapi jantungku tidak sedang fokus pada dimsum.
Bukan karena aku minder—aku tahu aku cantik, kulitku bersih, banyak yang bilang tahi lalat kecil di pipiku justru membuatku terlihat manis. Tapi tetap saja… ada sesuatu di dadaku setiap kali tatapan itu datang dari berbagai arah.
Cemburu?
Bangga?
Atau campuran dua-duanya?
Aku sendiri tak tahu.
Yang jelas, setiap kali seseorang menoleh, hatiku seolah berkata,
Iya, aku tahu dia menarik. Tapi dia duduk di hadapanku sekarang.
Riyu akhirnya mendongak, melihatku memperhatikan wajahnya.
“Ada apa?” ia bertanya sambil mengunyah perlahan.
Aku hanya menggeleng—mungkin terlalu cepat.
Dia menatapku lebih fokus kini, alis sedikit mengerut. “Kamu capek? Atau kepedesan seblaknya?”
Aku tersenyum, kecil tapi sulit ditahan.
“Nggak. Aku cuma… lihat kamu.”
Dia berhenti.
“Lihat aku ngunyah?”
Aku tertawa. “Iya.”
Tanpa sadar, tatapannya melembut.
Hanya satu detik, tapi cukup membuatku merasa… dipilih.
Dan seolah alam semesta ingin menggodaku, tepat saat itu dua perempuan yang lewat menoleh lagi ke arah kami.
Refleks, aku mencondongkan tubuh sedikit, memindahkan piring takoyaki lebih dekat ke tengah meja. Hanya gerakan kecil—tapi cukup membuat Riyu memperhatikan arah pandangku.
Dia melihat sekilas ke sekitar, lalu kembali memandangku.
Ada senyum samar di bibirnya.