Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #38

Profesionalitas Yang Retak


Sudah lebih dari tiga bulan aku dan Riyu bersama.

Waktu yang tidak singkat, tapi juga belum cukup lama untuk membuat kami benar-benar kebal pada getaran kecil di antara kami. Di kantor, kami sepakat menjaga batas—tidak ada pegangan tangan, tidak ada lirikan yang terlalu lama, tidak ada bahasa tubuh yang bisa mengundang tafsir. Hanya profesionalitas, rapi, dan aman.

Setidaknya… itu rencana awalnya.

Saat ini aku berdiri di depan meja Riyu, menjelaskan proposal yang ia minta kemarin. Aku berbicara dengan nada formal, menunjuk grafik, menjelaskan poin demi poin. Riyu mendengarkan dengan serius, tapi sesekali sudut bibirnya terangkat, atau matanya menatapku sedikit lebih lama dari yang seharusnya.

Aku pura-pura tidak sadar.

Pura-pura tidak goyah.

Padahal jantungku sudah seperti ingin mengajukan resign tanpa pemberitahuan.

“Ahem.”

Suara Pak Anton memotong udara. “Pak Riyu, dari gelagatnya sekarang… ini bukan PDKT lagi, kan?”

Refleks aku tersentak. Pena hampir jatuh dari tanganku.

Riyu melirikku sekilas—lirikan kecil, singkat, tapi cukup untuk membuat pipiku memanas. Lalu ia kembali menatap Pak Anton, wajahnya tenang, suaranya ringan, seolah sedang mengabarkan hal paling biasa di dunia.

“Ah iya… udah bersama.”

Dan ruangan itu meledak.

“Wah, selamat ya!” Bu Rini langsung berdiri.

“Akhirnyaaa!” seru Bu Winda dari sudut ruangan. “Langgeng dong!”

“Saya udah curiga dari dulu!” sahut Bu Siska, disusul tawa yang bertubi-tubi.

Suara tepukan meja, ucapan selamat, bisikan-bisikan heboh menghantam telingaku tanpa ampun. Aku berdiri kaku—tidak tahu harus tersenyum, mengangguk, atau pura-pura pingsan.

Riyu menatapku lagi. Hangat. Lembut. Ada sedikit rasa bersalah di sana, tapi juga kebahagiaan yang tidak ia sembunyikan.

Lihat selengkapnya