Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #39

Rumah yang Tidak Sepenuhnya Menerima


Sabtu sore terasa lebih hangat dari biasanya.

Di layar ponselku tertera pengingat yang sejak pagi menemani pikiranku: ulang tahun papa—58 tahun.

Angka itu membuatku tersenyum kecil, membawa pulang kenangan, doa, dan rasa syukur yang pelan-pelan mengendap di dada.

Beberapa hari sebelumnya, mama menelepon dengan nada setengah menggoda, setengah berharap.

“Kalau kamu memang sudah punya seseorang, bawa pulang besok,” katanya. “Biar papa dan mama lihat sendiri.”

Aku menyampaikan pesan itu pada Riyu tanpa banyak embel-embel. Kukira ia akan kaget, atau setidaknya meminta waktu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Matanya berbinar, ada semangat yang nyaris kekanak-kanakan.

“Oke,” katanya singkat. Terlalu siap.

Namun kesiapan itu runtuh begitu mobil berhenti di depan rumah. Riyu mematikan mesin, menatap bangunan dua lantai yang sejak kecil menjadi tempatku pulang, lalu menarik napas panjang—panjang sekali, seolah ia sedang mengumpulkan sesuatu dari dasar dirinya.

“Re…” suaranya rendah. “Aku jadi gugup.”

Aku menoleh spontan. Untuk pertama kalinya aku melihatnya seperti itu—Riyu, pria dengan postur tegap dan sorot mata yakin, terlihat ragu. Jemarinya mengetuk setir pelan, berulang, seperti irama yang gagal menenangkan.

Aku tertawa kecil, gemas sekaligus terharu.

“Papa mamaku baik kok,” ucapku sambil menepuk lengannya. “Mereka pasti senang ketemu kamu.”

Ia mengangguk, meski jelas gugup itu belum benar-benar pergi.

“Aku cuma ingin memberi kesan baik,” katanya jujur. “Mereka penting buat kamu. Aku ingin mereka… menyukaiku.”

Kalimat itu membuat dadaku menghangat—dan tanpa kusadari, juga sedikit bergetar.

Aku meraih tangannya sebentar. “Kamu udah cukup baik apa adanya.”

Riyu tersenyum tipis. Lalu membuka pintu mobil.

Saat kami berjalan berdampingan menuju rumah, aku tiba-tiba melihatnya dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai atasan. Bukan sebagai pria yang selalu terlihat tenang dan terkendali. Tapi sebagai seseorang yang sungguh-sungguh ingin diterima oleh keluargaku. Dan entah kenapa, itu membuat langkahku terasa lebih ringan.


---


Begitu memasuki rumah, kami langsung disambut hangat. Tidak ada kue, tidak ada lilin—memang seperti itu setiap ulang tahun papa. Ia tidak pernah membutuhkan perayaan, hanya kehadiran orang-orang yang ia sayangi, duduk bersama, mengobrol tanpa tergesa. Dan hari itu, Riyu termasuk di dalamnya.

Mama tersenyum saat melihatnya membawa bingkisan. Papa mengangguk pelan—menghargai cara Riyu merendah saat menyerahkan beberapa obat herbal dan bantal kesehatan yang katanya bagus untuk tulang belakang.

Lihat selengkapnya