
Pagi itu meja makan terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Tidak ada percakapan ringan, tidak ada senda gurau kecil seperti dulu. Hanya bunyi sendok yang beradu pelan dengan mangkuk—ritmenya kaku, terputus-putus, seolah setiap orang sengaja memilih diam agar tidak membuka luka yang masih segar.
Aku mencoba menelan bubur di hadapanku. Hangat, tapi rasanya hambar. Seperti kapas yang mengisi mulut, tidak memberi apa pun selain rasa kosong. Tenggorokanku terasa sempit, dadaku berat. Sejak semalam, ada sesuatu yang menggantung di sana—kata-kata yang ingin keluar, tapi terus tertahan oleh takut.
Akhirnya aku mengumpulkan keberanian yang sejak tadi menggelantung di tenggorokan.
“Papa…” suaraku bergetar. Satu kata itu saja sudah terasa seperti menantang badai. “Aku mohon… pahami aku.”
Sendok papa berhenti di udara. Ia menoleh pelan. Tatapannya tidak keras, tidak membentak—justru itulah yang membuatnya lebih menekan. Tatapan seorang ayah yang yakin pada pikirannya sendiri, yang merasa sedang melindungi anaknya, bahkan ketika perlindungan itu melukai.
“Dia berpisah bukan karena pilihan,” lanjutku, napasku terengah. Aku menahan air mata sekuat tenaga, menggigit bagian dalam bibirku agar suaraku tidak pecah. “Istrinya meninggal, Pa… Kenapa papa menyalahkannya atas sesuatu yang bahkan bukan kesalahannya? Itu takdir… takdir yang Tuhan tentukan…”
Kalimat itu jatuh satu per satu, gemetar, penuh harap. Aku berharap—sekali saja—papa akan melembut. Bahwa ia akan melihat Riyu bukan sebagai status, bukan sebagai kata duda, tapi sebagai manusia yang pernah kehilangan.
Wajah papa menegang. Ada sesuatu yang melintas di matanya—keraguan, mungkin rasa iba, mungkin juga marah karena ia merasa aku memojokkannya. Namun satu hal yang jelas: kata-kataku belum cukup.
“Papa tetap tidak suka,” katanya akhirnya. Pendek. Berat. Final.
“Papa tidak ingin kamu menanggung risiko… itu saja.”
Risiko.
Kata itu menghantamku lebih keras dari apa pun. Risiko, seolah cinta yang kupilih adalah kesalahan statistik. Seolah kebahagiaanku hanya angka yang bisa dihitung untung-ruginya.
Lalu aku menoleh pada mama. Itu refleks. Harapan terakhir yang menggantung rapuh.
“Ma…” bisikku. Suaraku hampir tidak terdengar. “Tolong…”