
Pagi itu aku datang lebih awal dari biasanya.
Udara kantor masih bersih dari riuh—hanya dengung AC, bunyi sepatu beberapa orang yang melintas, dan cahaya matahari yang belum sepenuhnya menghangat. Aku menarik napas panjang sebelum melangkah ke meja, merapikan tas, lalu menatap bayanganku di layar monitor yang masih mati.
Riasanku rapi.
Terlalu rapi.
Concealer menutupi bengkak di bawah mataku, bedak menahan kilap yang muncul karena kurang tidur. Aku memastikan tidak ada yang tersisa dari tangis semalam—setidaknya tidak di wajahku.
Aku harus terlihat baik-baik saja.
Seperti dulu… saat belum ada siapa pun yang tahu betapa rapuhnya aku di dalam.
Namun semua persiapan itu runtuh begitu aku merasakan kehadirannya.
Riyu berdiri di ambang pintu ruangan. Langkahnya pelan, nyaris tanpa suara, tapi tatapannya langsung menancap padaku seolah aku satu-satunya titik fokus di ruangan itu. Ia bahkan belum sepenuhnya mendekat, tapi sorot matanya sudah dipenuhi tanya.
“Re,” panggilnya pelan.
“Kamu kurang enak badan?”
Nada suaranya rendah, khawatir, lebih lembut dari biasanya. Bukan suara atasan. Bukan suara formal. Suara seseorang yang benar-benar peduli.
Aku tersenyum tipis—senyum yang kupaksakan agar terlihat meyakinkan.
“Cuma kecapekan, kok. Nggak apa-apa.”
Riyu diam sejenak. Matanya memindai wajahku perlahan… terlalu perlahan. Seolah ia sedang membaca sesuatu yang sengaja kusembunyikan di balik lapisan make-up ini.
“Yakin?” tanyanya lagi.
Satu kata itu membuat dadaku seperti diciutkan tangan tak terlihat.
Aku mengangguk cepat. Terlalu cepat.
“Yakin. Nanti juga baikan.”
Ia jelas tidak sepenuhnya percaya. Aku tahu itu dari caranya menahan napas sejenak. Tapi Riyu juga tidak pernah menjadi orang yang memaksakan luka keluar sebelum siap.
Ia mengangguk kecil, lalu berbalik keluar ruangan.
Beberapa menit kemudian, langkahnya terdengar lagi. Kali ini ia datang membawa sesuatu. Dua botol tonik herbal, satu kotak vitamin, dan sebungkus tisu basah.
Ia meletakkannya di mejaku satu per satu, rapi, seolah sedang menata perhatian.
“Ini… buat jaga-jaga,” katanya singkat.
Nada suaranya biasa saja. Tapi tatapan matanya… itu yang tidak sanggup kutahan.Tatapan yang berkata:
Kalau kamu belum siap cerita, aku akan tetap di sini. Menunggu.
Aku menunduk, berpura-pura membaca layar laptop.
“Makasih…” bisikku.
Riyu tidak membalas. Dia hanya berdiri beberapa detik di samping meja, seolah memastikan aku benar-benar baik-baik saja, sebelum akhirnya berbalik dan kembali ke mejanya.
Saat ia melangkah pergi, punggungnya terasa lebih tegang dari biasanya.