Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #42

Ketika Kata Itu Akhirnya Datang


Telepon itu sudah berakhir beberapa detik lalu, tapi dunia di sekelilingku terasa seperti lupa cara bergerak.

Ponsel masih kugenggam erat. Layarnya gelap, tapi gema suara mama barusan masih berdentang di kepalaku, berulang-ulang, seperti gema di ruang kosong yang tak kunjung reda.

Riyu ke rumah…

Papa nggak marah…

Papa setuju…

“Apa…?”

Suara itu keluar dari bibirku nyaris tanpa napas.

Sebulan terakhir terasa seperti menahan badai sendirian. Aku menahan tangis, menahan takut, menahan rasa bersalah—karena merasa telah menyeret Riyu masuk ke pusaran masalah keluargaku. Setiap malam aku bertanya pada diriku sendiri, apakah cintaku padanya terlalu egois. Apakah aku sudah menaruh beban yang terlalu berat di pundaknya.

Dan sekarang… kalimat mama itu menghantam dadaku, bukan membawa luka, hanya membuat napasku tercekat oleh sesuatu yang tak kuduga.

Riyu ke rumah?

Tanpa bilang apa pun padaku?

Tanpa mengajakku?

Menghadap papa… sendirian?

Jantungku berdegup begitu keras sampai telingaku berdenging. Aku berdiri kaku di ruang tamu, sementara gelombang kebahagiaan menyerbu masuk hingga dadaku terasa sesak oleh rasa syukur.

“Apa yang dia lakukan…” bisikku, campuran takjub, takut, dan ketidakpercayaan.

Aku memejamkan mata.

Membayangkan Riyu, dengan ketenangannya, dengan tatapan lembut yang selalu membuatku luluh… berdiri di depan papaku yang keras seperti batu.

Menghadapinya seorang diri.

Tanpa memberitahuku.

Tanpa meminta aku ikut.

Menanggung semuanya sendirian.

Untukku.

Pikiranku dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk: suara papa yang meninggi, tatapan tajam yang menilai, penolakan yang dingin. Tapi mama bilang tidak. Mama bilang papa akhirnya setuju.

Seolah semua beban yang selama ini kupikul runtuh dalam satu momen—momen yang bahkan tidak kusaksikan.

Lihat selengkapnya