
Siang itu Riyu mengajakku ke rumahnya.
Bukan rumah yang dulu pernah kudatangi—rumah yang penuh jejak duka, yang masih menyimpan aroma kehilangan setelah istrinya meninggal. Ini rumah yang berbeda. Katanya, ia pindah ke sini tiga bulan setelah semuanya terjadi. Rumah baru, dengan dinding berwarna hangat, cahaya matahari yang masuk tanpa ragu, dan aroma bersih yang menenangkan.
Rumah yang terasa… hidup.
“Aku pengen kamu lihat tempat aku tinggal sekarang,” katanya tadi di mobil.
Nada suaranya biasa saja, tapi aku tahu—mengajakku ke sini bukan hal sepele.
Kami berkeliling sebentar. Tidak besar, tapi rapi dan terawat. Ada tanaman kecil di sudut ruang, rak buku yang tertata, dan jendela besar yang membiarkan siang masuk dengan bebas. Tidak ada aura masa lalu yang menekan. Yang ada hanya kesan seseorang yang perlahan bangkit, menata ulang hidupnya.
Setelah itu, ia mengajakku duduk di ruang tamu. Di atas meja sudah ada potongan buah dan dua gelas minuman dingin.
Dan entah bagaimana—dalam waktu yang bahkan tidak terasa—aku sudah berada di pangkuannya.
Punggungku bersandar ke dadanya. Tubuhku pas di antara lengannya. Tangannya melingkar lembut di pinggangku, tidak menahan, tidak mengikat. Jari-jarinya sesekali bergerak pelan, seolah mengikuti ritme napasku, menenangkannya… dan menenangkanku.
“Aku mau cerita,” katanya pelan, sangat dekat di telingaku.
Nada baritonnya menggetarkan sesuatu di dadaku. Refleks, aku menggenggam jemarinya.
Aku menunggu.
Riyu diam sejenak sebelum melanjutkan. Seperti sedang memilih kata paling jujur tapi juga paling aman.
“Aku kenal Inara waktu kuliah,” katanya akhirnya. “Kami mulai pacaran setelah lulus.”
Tarikan napasnya terdengar tipis, tapi stabil.
“Kami pacaran sebentar. Nggak sampai satu tahun… lalu kami menikah.”
Aku tidak menyela. Tidak ingin memotong alur kenangan yang sedang ia buka dengan hati-hati.
Beberapa detik berlalu. Lalu, dengan suara yang hampir berbisik, aku bertanya,
“Apa yang membuatmu menyukainya?”
Riyu tersenyum kecil. Senyum yang hangat, tapi membawa bayangan kenangan jauh.
“Inara itu… sedikit kebalikan kamu,” katanya.
“Dia ceria. Cerewet soal hal-hal kecil. Bisa ngomel panjang cuma karena aku pulang lembur, atau ribut gara-gara aku lupa letak remote.”
Nada suaranya melembut.
“Dan…” ia berhenti sebentar, lalu terkekeh kecil, “dia takut kucing.”
Aku membalikkan tubuh sedikit, menatapnya dari sudut mata.
“Takut kucing?” tanyaku, nyaris tak percaya.
Riyu mengangguk, senyumnya melebar.