
Pagi ini lobi kantor masih terasa dingin, seperti belum sepenuhnya siap menyambut hari. Lampu-lampu putih menggantung rapi di langit-langit, tapi belum cukup membuat suasana benar-benar hidup. Beberapa orang lalu-lalang dengan langkah cepat.
Aku mampir ke kafe kecil di sudut ruangan—tempat yang selalu jadi penyelamat ketika mataku masih setengah tertutup dan pikiranku belum sepenuhnya hadir. Aroma kopi langsung menyeruak begitu aku mendekat, hangat, dan menenangkan.
Aku memesan dua—satunya untukku, satunya lagi untuk Riyu.
Kebiasaan kecil yang tidak pernah kami bicarakan, tapi entah kenapa selalu membuatku merasa bahagia. Seperti ada peran kecil yang hanya kami pahami berdua.
Saat menunggu, seseorang berdiri di sampingku.
Nia—devisi marketing.
Rapi seperti biasa. Rambut tersisir sempurna, blazer jatuh pas di bahunya, dan ekspresi percaya diri.
Ia memesan tanpa menoleh. Lalu, entah karena apa, tiba-tiba ia memandangku.
“Aku dengar kamu kencan ya sama Riyu.”
Aku terkejut. Bukan karena pertanyaannya. Tapi karena dia menyebut nama Riyu tanpa embel-embel “Pak”.
Aku hanya mengangguk kecil. Tidak merasa perlu menjelaskan apa pun.
Ekspresinya langsung berubah. Tidak suka. Dan sama sekali tidak berusaha menyamarkannya.
Pesananku selesai. Aku meraih dua cup kopi, berniat pergi sebelum suasana menjadi lebih tidak nyaman.
Tapi Nia bicara lagi.
“Apa kamu tahu…” katanya, suaranya dibuat santai, tapi ada sesuatu yang dingin di baliknya, “waktu kuliah, Riyu itu mendekati dua wanita sekaligus?”
Langkahku terhenti.
Dadaku seperti diremas.
Mulutku ingin menjawab, tetapi tidak ada kata yang keluar.
Nia menatapku sejenak, seperti memastikan kata-katanya masuk sempurna ke kepalaku.
Lalu ia menambahkan, lebih pelan, lebih menusuk:
“Aku nggak habis pikir… kalian bisa dekat waktu istrinya baru meninggal.”
Cup kopi di tanganku terasa berat.
Terlalu berat.
Pesanan Nia keluar. Ia mengambilnya tanpa menungguku menjawab, lalu pergi begitu saja—melenggang ringan, seolah tidak baru saja melemparkan dua kalimat yang meninggalkan luka kecil tapi dalam.
Aku berdiri mematung.
Tersengat.
Terdiam.
Pertahanan yang kubangun selama ini retak oleh dua kalimat dari seseorang yang bahkan bukan bagian dari hidupku.
Dan untuk beberapa detik, aku lupa bernapas.
Aku berjalan memasuki kantor dengan langkah yang kuatur sedemikian rupa—pelan, terkontrol, seolah tidak membawa apa-apa selain dua gelas kopi di tangan.
Padahal dada masih terasa menyempit oleh perkataan Nia tadi.
Begitu masuk, ruangan kantor sudah sibuk dengan suara keyboard dan mesin fotokopi.
Normal.