
Malam itu rumahku sunyi, sepi dengan cara yang menenangkan. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan, menyapu udara ruang makan yang remang. Aku duduk sendiri di kursi, ponsel di tangan, menatap layar lebih lama dari yang seharusnya. Jariku sempat ragu di atas layar—seolah kabar ini terlalu besar untuk sekadar disampaikan lewat suara.
Akhirnya aku menekan nomor rumah.
Begitu suara mama menyapa dari seberang, lembut dan hangat seperti biasa, dadaku langsung menghangat.
“Halo, Ma. Belum tidur, kan? Lagi apa?”
“Belum, sayang,” jawab mama. “Mama lagi duduk-duduk aja sambil nonton TV. Kamu sendiri lagi apa? Suara kamu kedengarannya beda. Ada apa, Nak?”
Aku menarik napas pelan, mencoba menata detak jantung yang tiba-tiba terlalu terasa.
“Ma… aku mau kasih kabar.”
“Kenapa, Nak?” Nada mama berubah sedikit, penasaran namun tetap tenang.
“Riyu…” Aku berhenti sebentar, memastikan suaraku tidak bergetar. “Riyu melamarku tadi.”
Ada jeda. Hening yang membuatku menahan napas.
Lalu suara mama terdengar—hangat sekali, bahkan lebih hangat dari yang kubayangkan.
“Alhamdulillah… akhirnya,” katanya dengan senyum yang bisa kurasakan meski tak kulihat. “Mama ikut senang, Rea.”
Dadaku langsung melonggar. Mataku panas, dan aku membiarkannya—rasa haru yang tidak menyakitkan, hanya penuh.
“Tolong jaga hubungan kalian baik-baik, ya,” lanjut mama lembut. “Bangun pelan-pelan. Saling jaga.”
Aku menutup mata, menyerap setiap katanya seperti doa.
“Iya, Ma.”