
Pagi itu lobi kantor dipenuhi langkah-langkah cepat para karyawan yang baru datang. Aroma kopi dari kafe di sudut ruangan bercampur dengan wangi parfum ringan dan udara pendingin yang menyapa dingin. Aku dan Riyu berjalan berdampingan, jari kami saling bertaut hangat—bukan genggaman yang berlebihan, hanya cukup erat untuk saling mengingatkan bahwa kami ada.
Sesekali Riyu menoleh padaku. Senyum kecil terbit di sudut bibirnya—senyum yang tidak pernah ia bagikan sembarangan. Senyum yang selalu berhasil membuat langkahku terasa lebih ringan.
Saat kami melewati kafe, pandanganku tanpa sengaja tertarik pada satu sosok di depan counter. Nia.
Ia berdiri menunggu pesanannya, satu tangan memegang ponsel, tangan lainnya menggantung di sisi tubuh. Begitu matanya menangkap tangan kami yang saling bergandengan, gerakannya terhenti. Tatapannya turun perlahan—dari wajah Riyu, ke wajahku, lalu berhenti cukup lama di jemari kami yang saling menggenggam tanpa ragu.
Ada kilatan terkejut di wajahnya. Seperti ia baru menyadari bahwa provokasinya tempo hari sama sekali tak menggoyahkan apa pun di antara kami.
Riyu tidak menyadarinya. Fokusnya tertuju pada panel lift di depan. Tapi aku melihat semuanya dengan jelas.
Dan alih-alih melepaskan tangan Riyu atau berpaling, aku justru menatap balik. Lalu sedikit mengangguk sopan.
Bukan sombong.
Bukan menantang.
Hanya penegasan halus:
aku baik-baik saja. Kami baik-baik saja.
Nia segera memalingkan wajah, pura-pura sibuk dengan ponselnya. Seolah momen itu tidak pernah terjadi.
Lift berdenting. Pintu terbuka. Riyu menggenggam tanganku sedikit lebih erat—seolah refleks—dan kami melangkah masuk bersama. Saat pintu lift tertutup, bayangan di kaca memantulkan kami berdua. Aku tersenyum pelan.
Ruang kantor pagi itu terasa seperti biasa—ramai tapi nyaman. Suara keyboard saling bersahutan, sesekali diselingi bunyi stapler atau tawa kecil dari kubikel sebelah. Aku baru saja menutup satu file laporan ketika Bu Rini menghampiri mejaku.
“Rea, laporan minggu kemar—” kalimatnya terhenti begitu pandangannya jatuh ke tanganku.
Dalam sepersekian detik, ekspresinya berubah. Mata Bu Rini membesar, tangan hangatnya meraih tanganku tanpa izin—tanpa pikir panjang.
“Kamu udah dilamar, Rea??” suaranya cukup keras untuk membuat satu ruangan menoleh.