Buah Dari Luka

Linda Er
Chapter #48

Rumah Yang Menunggu


Sepanjang perjalanan ke rumah orang tua Riyu, telapak tanganku dingin. Ini pertama kalinya aku akan bertemu mereka sebagai calon istrinya. Di pangkuanku ada brownies yang kubuat sendiri—resep yang kuhafal berkali-kali sejak Riyu bilang ibunya menyukainya. Di tas, beberapa vitamin dan suplemen kubungkus rapi.

Setibanya di depan rumah, Riyu meraih tanganku sebentar sebelum turun.

“Tenang ya, Re. Mereka pasti suka sama kamu.”

Senyumnya menenangkan, tapi jantungku tetap menabuh irama tak karuan.

Begitu pintu dibuka, seorang wanita paruh baya berdiri di sana—ibu Riyu. Tatapannya hangat, namun ada sesuatu yang bergetar di balik senyumnya. Ketika aku membungkuk sedikit memberi salam dan menyodorkan bingkisan, beliau memegang tanganku… lalu tiba-tiba menarikku ke dalam pelukan.

“Terima kasih… sudah datang dalam hidup Riyu,” suaranya lirih, pecah di ujung kalimat.

Aku tersentak. Tubuhku kaku sesaat sebelum akhirnya membalas pelukannya perlahan. Pelukan itu hangat, tulus, dan penuh emosi. Aku bisa merasakan bahunya bergetar—beliau menangis diam-diam, lembut, tapi sangat terasa. Seperti air mata yang dilepaskan setelah disimpan terlalu lama.

Seperti mengingat luka lama putranya.

Seperti lega akhirnya melihat senyum baru di hidupnya.

Ayah Riyu berdiri sedikit di belakang—posturnya tegap, wajahnya mirip Riyu tapi lebih kaku. Namun aku melihat matanya memerah. Dia tidak menangis, tapi tampak jelas ada sesuatu yang menahan di dadanya.

“Selamat datang,” katanya sambil mengangguk pelan, suaranya hangat tapi bergetar halus. “Terima kasih sudah mau menerima anak kami.”

Aku merasa tenggorokanku mengencang.

Kemudian ibu Riyu menatap wajahku dengan pandangan yang begitu lembut, seolah menilai bukan sekadar rupaku, tapi hatiku.

“Dia sudah melalui banyak hal, Nak… tapi sekarang, wajahnya lebih tenang dari yang pernah kami lihat selama ini,” katanya sambil tersenyum, masih dengan mata berkaca-kaca.

Aku menunduk, terharu sampai sulit bernapas.

Lalu Riyu berdiri di sampingku, meraih tanganku.

Tatapannya lembut, namun penuh makna.

Pada momen itu, aku benar-benar merasakan: ini bukan hanya pertemuan keluarga biasa.

Ini adalah pertemuan dua hati yang sama-sama berharap aku bisa menjadi rumah baru untuk putra mereka.

Dan aku berjanji pada diriku sendiri—pelan-pelan, dengan sepenuh hati—aku akan menjaga kepercayaan itu.

Kami duduk di ruang keluarga yang hangat. Teh mengepul pelan di cangkir-cangkir kecil, brownies buatanku dipotong rapi, berpadu dengan kue kering buatan ibu Riyu. Obrolan mengalir ringan, penuh tanya dan tawa kecil. Hingga akhirnya, ibu Riyu bangkit dan mengambil sebuah album besar dari meja samping.

Beliau membuka album besar itu di pangkuannya—album masa kecil Riyu. Aku mendekat, dan Riyu hanya menatap pasrah sambil tersenyum malu.

Foto-foto kecil itu membuat hatiku terasa hangat:

Riyu kecil dengan rambut acak-acakan, Riyu SD dengan tas biru hampir sebesar tubuhnya, Riyu SMP yang tampak pendiam, Riyu SMA yang sudah mulai terlihat seperti dirinya yang sekarang—tenang dan matang.

Lalu halaman terakhir terbuka.

Foto waktu wisuda.

Di sana Riyu berdiri di tengah keramaian, memakai toga. Di sampingnya ada beberapa teman, termasuk… Nia dan Inara.

Ibunya menatap foto itu lama sekali. Matanya teduh, tapi ada sesuatu yang berputar di balik tatapan itu—semacam nostalgia yang tidak sepenuhnya manis.

“Ibu pikir… Riyu tidak akan bisa membuka hatinya lagi,” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan. Kalimat itu jatuh di antara kami seperti embun yang dingin dan lembut.

Riyu menunduk sedikit, wajahnya berubah.

Aku tahu ada masa-masa sulit yang tidak pernah dia ceritakan secara penuh.

Ibu Riyu mengusap foto itu dengan ujung jarinya, ekspresinya sendu.

Lihat selengkapnya